Jarwana, Teladan dari Sebuah Kampung

(Ferdinand/N-1)
08/10/2018 04:00
Jarwana, Teladan dari Sebuah Kampung
( MI/Ferdinand)

TIGA dara kecil berbusana tradisional Banjar, Jawa, dan Tionghoa duduk berdampingan di dalam sebuah becak. Bibir mereka tak henti mengembangkan senyum kendati harus duduk berhimpitan.

Di tengah perjalanan, becak yang dikemudikan pria yang mengenakan surjan itu dihentikan oleh perempuan paruh baya. Perempuan berbusana etnik Tionghoa berwarna merah itu mengulurkan permen kepada penumpang becak yang menyambutnya penuh sukacita.
Adegan yang terjadi di tengah prosesi Kirab Budaya dan Pesta Jajanan Tradisional Jarwana di Kelurahan Jayengan, Kecamatan Serengan, Kota Surakarta, Jawa Tengah, kemarin, itu berlangsung spontan. Tidak ada kesan dibuat-buat, apalagi dipaksakan.

Kelurahan Jayengan berada di jantung Kota Surakarta, bagian barat Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat. Kelurahan dengan luas wilayah 0,293 km persegi itu dihuni tiga kelompok besar masyarakat keturunan, yaitu Banjar, Jawa, dan Tionghoa dengan jumlah jiwa yang hampir sama. Warga Banjar datang di kelurahan itu sejak 1900. Mereka menetap di Kampung Jayengan di sekitar Masjid Darussalam. Sebagian besar bermata pencarian sebagai perajin permata, emas, dan perak.

Tak jauh dari situ, perkampungan Jawa, yaitu Kampung Gandekan, Keparen, Surobawan, Kartodipuran, Brotodipuran, Panyutran, Notokusuman, Macanan, Surolayan, dan Kali Larangan. Perkampungan itu dulunya merupakan tempat tinggal keluarga, kerabat, dan abdi dalem Keraton Surakarta.

Di bagian luar Kelurahan Jayengan, di sisi timur dan utara banyak dihuni oleh warga keturunan Tionghoa. Sebagian besar merupakan kaum pedagang. Di sana juga terdapat bangunan Kelenteng Po An Kiong.

Kendati berasal dari etnik dengan budaya yang berbeda, mereka hidup berdampingan secara damai. Dalam pergaulan sehari-hari mereka membaur dalam bingkai kebersamaan yang sangat kukuh. “Selama ratusan tahun tidak pernah terjadi konflik di antara kami. Kami selalu menghargai satu sama lain,” kata tokoh masyarakat Jayengan, Trisno Jatmiko.

Harmonisnya hubungan antara tiga etnik itu tecermin pada istilah ‘Jarwana’ yang tercetus pada 1960 silam. Istilah itu merupakan akronim dari Banjar, Jawa, dan China.

Lurah Jayengan, Aris Harjito, mengatakan Jarwana merupakan satu keteladanan yang patut ditiru dari Jayengan. Ini merupakan potret nyata dari semangat hidup rukun dan damai dalam perbedaan. “Ini budaya adi luhung yang dapat menjadi suri teladan bagi umat manusia di seluruh dunia,” katanya.

Keteladanan inilah yang ingin ditularkan warga Jayengan melalui kirab budaya pagi itu. Sebanyak 1.200 peserta mengusung ragam budaya dari tiga etnik berbeda dalam sebuah satu barisan yang utuh. Indah, seindah pertemanan tiga dara kecil dalam becak yang saling melempar senyum tulus. (Ferdinand/N-1)





Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Dedy P
Berita Lainnya