Komunitas Bela Indonesia Gelar Pelatihan Juru Bicara Pancasila di Aceh

Micom
05/10/2018 16:45
Komunitas Bela Indonesia Gelar Pelatihan Juru Bicara Pancasila di Aceh
(Ist)

PELATIHAN Juru Bicara Pancasila sesi ke-7 digelar di Aceh, Jumat (5/10). Pelatihan yang diselenggarakan oleh Komunitas Bela Indonesia (KBI) ini bertujuan untuk menumbuhkan dan menguatkan Pancasila sebagai ideologi.

Hal tersebut tidak hanya menjadi tugas pemerintah tapi juga membutuhkan peran dari masyarakat. Trauma doktrinasi Pancasila ala Orde Baru harus dijawab dengan membuat penguatan ideologi Pancasila yang merupakan tanggung jawab bersama.

Pelatihan intensif yang akan berlangsung selama empat hari ini dilaksanakan di Hotel Arabia Aceh pada 5 sampai dengan 8 Oktober 2018 bersamaan dengan Pelatihan Juru Bicara Pancasila sesi ke-6 di Pontianak, Kalimantan Barat.

Sebelumnya, pelatihan ini telah dilaksanakan di lima kota berbeda yakni Bogor (Jawa Barat), Banten, Palu (Sulawesi Tengah), Ambon (Maluku), dan Palangkaraya (Kalimantan Tengah). Pelatihan ini melibatkan 40 peserta dengan berbagai macam latar belakang dari berbagai daerah di Aceh. Hadir dalam pelatihan ini para jurnalis, aktivis, mahasiswa, dan pelajar.

Affan Ramli, panitia lokal Aceh, mengatakan bahwa pelatihan ini penting dilaksanakan. Sebab, masyarakat Aceh punya dua komitmen politik sepanjang sejarahnya, yakni komitmen pada ide Darussalam (negeri kedamaian) sejak abad ke-16 dan komitmen pada ide republik (negeri demokratis) sejak abad 20.

Kedua ide ini sudah terinternalisasi dalam nadi 'tubuh sosial' rakyat Aceh. Karena itu, bagi masyarakat Aceh, Pancasila hanya bermakna jika dipahami dalam kerangka prinsip-prinsip ide republik dan ide Darussalam.

“Pelatihan Juru Bicara Pancasila ini dilaksanakan dalam rangka memenangi kembali narasi republik dan Darussalam dalam pikiran dan kesadaran masyarakat Aceh yang belakangan diganggu dengan gagasan-gagasan negara islam, khilafah, ekstremisme agama, dan intoleransi,” lanjut Affan.

Hal tersebut sejalan dengan pernyataan Anick HT, selaku Koordinator KBI, yang mengungkapkan bahwa rasa nasionalisme dan kecintaan terhadap Pancasila tidak mungkin ditumbuhkan dengan paksaan. Nasionalisme juga tidak mungkin tumbuh jika negara tidak berorientasi pada keadilan dan persamaan hak seluruh warga negara.

“Sebagai bagian dari masyarakat sipil, kita harus melakukan kampanye dua arah, pertama, mendorong negara melindungi, menjamin, dan memenuhi keadilan dan hak-hak setiap warga negara. Kedua, mendorong masyarakat untuk turut memastikan negara melakukan pekerjaannya, dan segenap masyarakat untuk juga menjaga dan merawat keberagaman Indonesia,” ujar Anick.

Kampanye itu harus dilaksanakan di media sosial. Sebab, media sosial saat ini adalah ranah penting pertarungan wacana. Berkembang luasnya tren penyebaran hoaks dan ujaran kebencian membuat warganet kita mudah terjerumus dalam konflik dan kebencian. Karena itu, diperlukan gerakan bersama untuk membanjiri dunia media sosial dengan konten-konten positif dan mencerahkan.

Untuk menguatkan gerakan bersama di media sosial, materi yang akan diberikan dalam pelatihan mencakup kepenulisan yang akan diampu oleh penulis Fahd Pahdepie dan manajemen medisa sosial oleh Savic Ali, Founder laman Islami.co.

Pelatihan berdasarkan buku Rumah Bersama Kita Bernama Indonesia yang ditulis oleh Denny JA dan Tim. Selain buku, KBI juga menyiapkan seluruh materi, baik isu maupun keterampilan, berupa slide power point maupun dalam bentuk serial video, untuk dimanfaatkan oleh khalayak yang hendak mengadakan pelatihan sejenis di mana pun. (RO/OL-1)





Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Msyaifullah
Berita Lainnya