Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
SEBAGAI negara yang rawan bencana, banyak daerah di Indonesia tidak memiliki peralatan sistem peringatan dini bencana (early warning system/EWS). Bahkan, ada peralatan EWS yang rusak, jumlahnya kurang dan tidak terawat.
Seperti di Kabupaten Klaten, Jawa Tengah, yang rawan bencana alam hingga kini belum memiliki alat EWS. Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Klaten, Bambang Giyanto, mengatakan bahwa Klaten merupakan daerah rawan gempa, banjir, longsor, dan erupsi Merapi. “BPBD Klaten sangat membutuhkan EWS ini mengingat ancaman bencana cukup tinggi, seperti banjir, longsor, erupsi, dan gempa bumi,” kata Bambang, Rabu (3/10).
Dari Kabupaten Wonogiri, BPBD setempat terus menggiatkan kegiatan mitigasi bencana untuk mengurangi risiko bencana di wilayah itu.
BPBD Klaten, lanjut Bambang, pernah memiliki EWS yang dipasang di Sungai Dengkeng, yaitu di Desa Ngadong, Gantiwarno, dan di Desa Talang, Bayat. Namun, alat deteksi dini bencana alam tersebut baik yang dipasang di Ngandong maupun Talang, hilang diterjang banjir Sungai Dengkeng pada November 2017. “Untuk pengganti EWS yang hilang, kami sudah mengusulkan pengadaan EWS pada APBD-P 2018. Harapannya sebelum akhir tahun sudah terpasang,” ujarnya.
Kepala BPBD Wonogiri, Bambang Haryanto, menjelaskan dalam mitigasi bencana, pihaknya mengajak Pokja Desa Tangguh Bencana untuk menguatkan talut jalan dan pembuatan drainase guna mengantisipasi dampak longsor saat musim hujan.
Sementara itu, di Banjarmasin, Kalimantan Selatan, saat ini baru memiliki delapan alat EWS yang dipasang di lima kabupaten. “Jumlah ini sangat kurang karena Kalsel memiliki 13 kabupaten dan kota. Apalagi, alat yang ada sudah tua dan sering eror,” terang Kepala BPBD Kalsel, Wahyudin Ujud.
Masih terkait dengan bencana, Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat, hanya punya enam EWS yang dikhususkan untuk deteksi banjir, longsor, dan pergerakan tanah. Sementara itu, EWS untuk deteksi gempa dan tsunami belum ada. “Padahal, sudah banyak korban jiwa di pantai selatan Jawa Barat saat tsunami 2006 di Banda Aceh,” kata Kepala Seksi Kesiapsiagaan BPBD Kabupaten Tasikmalaya, Sutaryo.
Provinsi Nusa Tenggara Timur yang cukup rawan bencana, mulai melakukan deteksi dini tsunami pascagempa bumi dengan menggunakan sensor seismik. “Ada 11 sensor seismik sudah dipasang di NTT. Memang masih sedikit, tetapi kita juga dapat sinyal dari sensor seismik lain,” kata Kepala Stasiun Geofisika Kelas 1 Kupang, Robert Wahyu.
Hingga kini sebanyak 25 gempa susulan di Kabupaten Sumba Timur, kemarin, dengan magnitudo 6,3 pada skala Richter. Robert Wahyu berharap agar tren gempa susulan semakin menurun. Masyarakat diminta tetap waspada.
Bantuan akademik
Pada bagian lain, Institut Teknologi Sepuluh November (ITS) Surabaya memberikan kuliah gratis kepada para mahasiswa Universitas Tadulako (Untad) yang tidak bisa mengikuti perkuliahan.
Rektor ITS, Jono Hermana, mengatakan bantuan ini dilakukan setelah mendapat kabar dari Rektor Untad, Muh Basir Cyio, yang melaporkan fasilitas Fakultas Teknik rusak parah. (AD/WJ/BB/DY/PO/AB/RK/RF/YK/N-2)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved