Taman Gesang Riwayatmu Kini

Ferdinand/FR)
04/10/2018 01:45
Taman Gesang Riwayatmu Kini
(MI/FERDINAND )

BILA sedang berkunjung ke Kota Surakarta, banyak orang melintasi Taman Gesang, yang berlokasi di tepian Sungai Bengawan Solo. Taman Gesang ini berada di kawasan Satwa Taru Jurug. Namun, pada Jumat (28/9), Taman Gesang ini tidak ada lagi. Pemerintah Kota Surakarta akan menjadikan Taman Gesang ini menjadi Bengawan Solo Park.

Bicara Gesang harus dikaitkan dengan lagu keroncong Bengawan Solo ciptaan Gesang yang menjadi salah satu lagu keroncong paling terkenal di dunia. Lagu tersebut telah diterjemahkan ke dalam 13 bahasa, termasuk bahasa Inggris, Rusia, Tionghoa, dan Jepang.
Lagu Bengawan Solo termasuk salah satu lagu favorit di Jepang. Banyak warga Jepang datang ke Surakarta hanya ingin bertemu dengan pencipta lagu Bengawan Solo itu. Itulah yang menjadi cikal bakal dibangunnya Taman Gesang.

Dibangunnya Taman Gesang ini sebagai bentuk penghargaan kepada maestro keroncong almarhum Gesang Martohartono. Taman seluas 1.564 meter persegi ini dibangun pada 1983 dan diresmikan 10 tahun kemudian.

Adalah Perhimpunan Dana Gesang Jepang yang berinisiatif membangun sekaligus mendanai taman tersebut.  Sejumlah warga saat ditemui Media Indonesia, kemarin, mengatakan, bahwa dulunya Taman Gesang ini cukup indah.

Pintu gerbang masuk berupa gapura bergaya Jepang dilengkapi dengan tulisan berhuruf kanji. Di dalam taman terdapat panggung untuk pertunjukan musik keroncong lengkap, dengan tribune penonton serta aula. Di tengah taman terpasang patung sang maestro.
“Dulu Taman Gesang ramai. Sering ada pertunjukan musik keroncong di situ,” kata Wahyu, pedagang makanan di sekitar Taman Gesang.

Namun, entah mengapa setelah sang maestro meninggal dunia delapan tahun silam, tepatnya 20 Mei 2010, taman ini berangsur sepi, tidak ada lagi konser atau pertunjukan musik keroncong. Taman Gesang ini seolah-seolah kehilangan auranya.

Taman ini menjadi sepi dan tidak terawat lagi. Bahkan, bangunan panggung musik dan tribune rusak parah. Hanya patung sang maestro saja yang masih utuh berdiri menjadi saksi bisu rusaknya Taman Gesang.

Daripada mangkrak, Perusahaan Daerah Taman Satwa Taru Jurug (TSTJ) akhirnya menawarkan lokasi itu kepada investor. Tawaran itu disambut positif oleh PT Warna Bhuana Indonesia (WBI).

Direktur Utama WBI, Herman Adriyanto, mengatakan, lahan bekas Taman Gesang dan sekitarnya akan digunakan untuk membangun zona community park, zona creative life style, zona e-sport, dan zona walking museum.

“Total investasinya Rp22 miliar dan akan dibangun secara bertahap,” kata Herman. Melalui Bengawan Solo Park, PT WBI ingin mengembangkan TSTJ sebagai objek wisata baru. Dia optimistis upaya ini bisa berhasil karena potensi yang ada sangat besar.
 Herman menambahkan beberapa bagian akan dipertahankan. Salah satunya ialah patung sang maestro, sebagai diorama dari zona walking museum. (Ferdinand/FR)





Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Dedy P
Berita Lainnya