Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
KALAU saja GS Goemens masih hidup, ia sangat takjub dengan keberadaan pembangkit listrik tenaga air (PLTA) Ketenger di Desa Ketenger, Kecamatan Baturraden, Banyumas, Jawa Tengah. Sebab, pada usia yang ke-79 tahun, PLTA Ketenger masih beroperasi memproduksi energi hijau secara konsisten.
Goemens merupakan seorang insinyur yang menjadi kepala teknis pembangunan PLTA pada perusahaan Hindia Belanda NV ANIEM 9. Pembangunannya dilaksanakan mulai 1932 dan rampung pada 1939. Pembangunannya cukup spektakulter. Jejak-jejak sejarah melalui foto-foto lama hitam putih menunjukkan bagaimana masyarakat membangun jalur rel kereta api (KA) untuk mengangkut berbagai macam material, pembangunan jalan raya, jembatan, maupun penampung air.
Belum lagi pipa beton untuk mengalirkan air yang memanjang di pinggir Dusun Kalipagu, Desa Ketenger. Panjangnya mencapai 778 meter dengan diameter 1,4 meter. Jejak yang agak hilang hanyalah jalur rel KA, sedangkan untuk yang lainnya masih utuh.
"Salah satu ciri khas Dusun Kalipagu ialah adanya pipa besar panjang yang mengalirkan air dari hulu Sungai Banjaran menuju ke pusat turbin PLTA Ketenger," ungkap Ketua Lembaga Masyarakat Desa Hutan Ketenger, Purnomo.
Ia mengungkapkan sejauh ini warga dusun dengan PLTA Ketenger terus bersinergi bagaimana menjaga lingkungan yang berada di lereng selatan Gunung Slamet. "Air menjadi kebutuhan bersama. Tentu saja tanpa air, PLTA Ketenger tidak mungkin beroperasi. Begitu juga dengan kami, tanpa air petani tidak dapat menanam padi. Kami juga tidak bisa mengelola wisata, karena kebetulan Curug Jenggala yang kami kelola harus menjaga air agar tetap mengalir," ujarnya.
Tak hanya Desa Ketenger, tetapi juga Desa Melung, Kecamatan Kedungbanteng yang ikut mendukung pelestarian lingkungan di kawasan hulu. Sebagai desa terakhir di lereng Gunung Slamet bagian selatan, Desa Melung juga ikut serta bersama dengan PLTA Ketenger menghijauan daerah aliran Sungai Banjaran.
Ada dua sungai yang masuk untuk membangkitkan turbin yakni air dari Sungai Banjaran dan Sorobadak. Aliran untuk membangkitkan unit I dan II dengan kapasitas masing-masing 3,5 megawatt (Mw) atau totalnya 7 Mw. Adapun unit lainnya berkapasitas 1 Mw dan 0,5 Mw. Sehingga PLTA Ketenger total berkapasitas 8,5 Mw.
Manager Engineering PT Indonesia Power UBP Mrica Dwi Hantoro mengatakan, PLTA Ketenger merupakan salah satu heritage untuk Indonesia karena usianya kini hampir menginjak 80 tahun. "Sampai sekarang, pembangkit listrik hijau itu masih beroperasi optimal, apalagi didukung daya lingkungan yang baik sehingga air terus mengalir sepanjang tahun," katanya.
Inilah sebuah potret teknologi listrik ramah lingkungan yang tetap berproduksi meski sudah menua.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved