Warga Palu Terguncang

M Taufan SP Bustan
29/9/2018 06:00
Warga Palu Terguncang
(ANTARA/HO)

GEMPA 7,7 pada skala Richter (SR) disertai tsunami dengan ketinggian hampir 4 meter menerjang Palu dan Donggala, Sulawesi Tengah, kemarin.
Sejumlah bangunan roboh dan beberapa badan jalan mengalami retak.

Hingga berita ini diturunkan, belum diketahui pasti jumlah korban jiwa ataupun bangunan rusak dalam peristiwa sekitar pukul 18.02 Wita itu. Bencana itu diawali dengan beberapa kali guncangan mulai 5,0 SR hingga 5,9 SR. Banyak warga tidak merespons. Sampai akhirnya gempa susulan berkekuatan 7,7 SR, warga pun terhenyak. Mereka pun berhamburan keluar rumah.

“Semua keluar rumah, ­saling dorong. Setelah itu semua berkumpul di jalan,” kata M Taufik, warga Jalan Kelor, Kelurahan Balaroa, Kecamatan Ulujadi, kepada Media Indonesia melalui sambungan telepon, kemarin.

Menurut Taufik, saat gempa 7,7 SR terjadi, suasana di Palu tidak karuan. Rumah terayun-ayun selama beberapa detik yang membuat perabotan berjatuhan. Gemuruh suara ba-ngunan roboh terdengar dari kejauhan. Pohon-pohon dan tiang listrik bergelimpangan.

“Di sini nyaris semua rumah dan toko roboh. Ada juga yang hanya retak dindingnya. Telepon susah sekali. Listrik pun padam. Kondisi yang sama juga terjadi di sejumlah wilayah di Palu. Bahkan salah satu mal terbesar di kota ini nyaris rata tanah,” ujar Taufik.

Andi Nardi, warga yang tinggal tidak jauh dari pantai, bercerita bahwa setelah gempa menggoyang Palu, tsunami menerjang sekitar pukul 18.30 Wita. Tsunami tidak berlangsung lama, tetapi merusak sejumlah bangunan yang dilewati air bah.

“Mulanya air laut surut hingga akhirnya meluap sampai ke badan jalan dan melampaui tanggul pemecah ombak. Kurang lebih 500 meter air meluap ke daratan. Air bah menerjang bangunan di Pantai Taman Ria, Pantai Kampung Lere, Pantai Talise, Pantai Kampung Nelayan, dan Pantai Tondo. Tepat di depan Pantai Taman Ria, bangunan mal, rumah toko, dan masjid rusak parah. Termasuk Jembatan Palu IV yang menjadi landmark Kota Palu terputus. Kini, ­kondisi di Palu aman walaupun masih terjadi beberapa kali gempa susulan hingga tengah malam,” terang Andi.

Di sisi lain, banyak warga Desa Kabonga Kecil, Kecamatan Banawa, Kabupaten Donggala, hingga kemarin malam memilih mengungsi ke perbukitan. “Kami menunggu hari terang,” tutur Samson, warga Donggala.


Mendata korban

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyatakan pusat gempa berada di kedalaman 10 km pada 27 km timur laut Donggala dan berpotensi tsunami.

BMKG langsung mengaktivasi peringatan dini tsunami dengan status siaga (potensi tsunami 0,5-3 meter) di Pantai Donggala bagian barat dan status waspada (potensi tsunami kurang dari 0,5 meter) di Pantai Donggala bagian utara, Mamuju bagian utara, dan Kota Palu bagian barat. Akan tetapi, peringatan dini tsunami diakhiri pukul 18.36 WIB (19.36 Wita).

“Posko BPBD mengonfirmasi tsunami menerjang Pantai Talise, Kota Palu, dan pantai di Donggala. Jumlah korban dan dampaknya masih dalam pendataan,” kata Kepala Pusat Data, Informasi, dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho melalui siaran pers, kemarin.

Menurut Sutopo, Bandara Mutiara Sis Al Jufri Palu ditutup sejak pukul 19.26 Wita kemarin hingga hari ini pukul 19.20 Wita. “Komunikasi lumpuh. Kami kesulitan ­berkoordinasi. Listrik padam juga menyebabkan suasana gelap di Palu dan Donggala.”

BPBD Donggala melaporkan seorang warga meninggal dunia, 10 mengalami luka-luka, dan puluhan rumah rusak.

Dari Jakarta, Presiden Joko Widodo langsung memantau dan mengumpulkan ­informasi kondisi terkini di daerah terdampak gempa. Presiden menyiagakan seluruh jajaran terkait untuk menindaklanjuti kondisi di Palu.

“Semoga saudara kita di sana tenang dan selamat,” tandas Presiden, kemarin malam. (Ind/Dhk/Ins/Pol/LN/Ant/X-3)





Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Msyaifullah
Berita Lainnya