Bisa Nikah setelah Sukses Panen

(Tosiani/N-2)
27/9/2018 01:00
Bisa Nikah setelah Sukses Panen
(ANTARA FOTO/Siswowidodo)

WAJAH Nanang Septiaji, 32, warga Desa Tlahap, Kecamatan Kledung, Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah, tampak cerah. Sambil menyeruput kopi, Nanang memghitung kembali uang hasil pembayaran tembakau kering hasil panen tahun ini.
“Lebih dari cukup untuk biaya pesta pernikahan. Akhirnya saya akan menikah juga,” kata Nanang saat ditemui Media Indonesia, Selasa (25/9).

Sebelumnya, Nanang mengaku gagal menikah lantaran hasil panen tembakau dua tahun lalu kurang. Kemudian pada musim panen tembakau tahun lalu pun hasilnya masih digunakan untuk keperluan lain. Baru pada tahun ini Nanang akan mewujudkan keinginannya dengan uang hasil penjualan tembakau sebagai biaya nikah.

Nanang menanam tembakau pada lahan miliknya seluas 5 hektare (ha) di Desa Tlahap dan Desa Tuksari. Keduanya masuk Kecamatan Kledung. Setiap 1 ha berisi 17 ribu hingga 18 ribu batang tanaman tembakau.

Sejak awal panen sekitar Agustus hingga September, lahan itu sudah menghasilkan 40 keranjang tembakau per hektare. Tiap keranjang berisi rata-rata 30 kg  tembakau kering rajangan.

“Sekarang sudah masuk grade E dan F, atau sudah srinthil. Saya jual ke perusahaan rokok Rp300 ribu per kg untuk grade E dan Rp 500 ribu untuk grade F,” tutur Nanang.

Nanang menyebutkan, sejak awal panen hingga saat ini sudah mendapatkan hasil sekitar Rp150 juta. Masih ada beberapa petikan daun tembakau lagi hingga akhir masa panen sekitar Oktober.

Hasil ini, katanya, sudah bisa menutup modal tanam hingga panen sebesar Rp100 juta untuk 5 ha lahannya.

Jika dibandingkan dengan tahun lalu, menurut Nanang, sebenarnya kualitas daun tembakau saat ini masih kurang bagus. Penyebabnya pada awal musim tanam tembakau sekitar Maret sudah jarang turun hujan. Meski tanaman tembakau perlu panas tinggi, pada awal tanam tetap butuh air agar pertumbuhan daunnya bagus.

“Tahun ini kemaraunya lebih panjang, jadi daunnya kurang bagus. Waktu tanam tetap perlu air. Kalau sudah masuk panen hingga pengeringan, baru butuh panas tinggi agar kualitasnya lebih bagus,” lanjutnya.

Ahmadi, 29, petani lainnya dari Desa Tlahap, berencana membeli sebuah sepeda motor dari hasil penjualan tembakau tahun ini. Ahmadi menanam 17 ribu batang pohon tembakau pada lahannya seluas 1 ha. “Rencananya saya ingin beli satu sepeda motor. Sisanya untuk biaya hidup sehari-hari dan modal tanam,” kata Ahmadi.

Yayu,30 , warga Posong, Kecamatan Kledung, mengaku masih mengalami kesulitan menjual hasil panen tembakaunya ke pabrikan.

“Yang sekarang pihak pabrikan lebih sulit. Terkesan mempersulit, kalau dibawakan grade D+, mintanya grade E. Ada yang bawa grade E, mintanya grade G, jadi susah jualnya,” keluh Yayu.

Yayu menanam 18 ribu tanaman tembakau di lahannya seluas 1 ha lebih. Sejak awal panen hingga saat ini sudah menghasilkan sekitar 40 keranjang tembakau. Tiap keranjang bernilai Rp2 juta hingga Rp3 juta. (Tosiani/N-2)

 





Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Dedy P
Berita Lainnya