Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
AISYAH Ardani, 20, tidak menduga dirinya menjadi pembicaraan netizen setelah videonya tentang gelang getar salat (GGS) viral. Gelang ciptaannya itu dikhususkan untuk kaum difabel khususnya tunarungu. Mahasiswi semester lima Universitas Sultan Agung Semarang ini membuat GGS setelah menerima keluhan dari kaum difabel tunarungu yang kesulitan mengikuti salat karena tidak mendengar suara imam saat salat berjamaah.
“Gelang ini dibuat untuk membantu teman-teman difabel khususnya tunarungu dalam hal ibadah,” kata Aisyah saat ditemui di Kantor Gubernur Jawa Tengah, Selasa (25/9).
Ia diundang Gubernur Ganjar Pranowo untuk memamerkan gelang ciptaannya itu.
Pertimbangan lainnya ialah dalam penciptaan GGS ini berlandaskan fikih. Aisyah mengatakan dalam mazhab Syafi’i yang banyak dianut di Indonesia, jika seseorang dalam salat bergerak lebih dari tiga kali maka salatnya batal. “Untuk teman-teman tunarungu kesulitan mendengar takbir dari imam.”
Sementara itu, alat bantu dengar hanya bisa membantu penderita tuli ringan, sedangkan mereka yang tergolong tuli berat membutuhkan alat bantu. “Ya saat sujud, makmum tidak melihat gerakan imam. Jadi mereka harus melirik-lirik saat salat,” tambahnya.
Pertimbangan lain dalam penciptaan GGS tersebut ialah soal fikih. Aisyah mengatakan dalam mazhab Syafi’i yang banyak dianut di Indonesia, jika seseorang dalam salat bergerak lebih dari tiga kali, salatnya batal.
“Untuk teman-teman tunarungu akan kesulitan mendengar takbir dari imam, tidak jarang mereka sering menoleh untuk mengetahui gerak imam. Karena pertimbangan fikih tersebut, kami ciptakan GGS,” katanya.
Aisyah menjelaskan ada dua gelang yang diciptakan untuk imam dan makmum yang sama-sama tunarungu. GGS adalah gelang yang dilengkapi sensor jarak dan mikrokontroler yang dipasang pada pemakainya. Ketika imam berubah gerakan salat, sensor yang terdapat pada gelang imam akan memberikan sinyal kepada gelang makmum sehingga bergetar. Dengan pengiriman sinyal ini, makmum mengetahui bahwa imam telah mengubah posisi saat salat.
Untuk proses penciptaan GGS ini, tim yang dipimpin Aisyah ini menghabiskan biaya sekitar Rp5 juta hingga Rp6 juta. Modal besar ini bisa kembali apabila GGS ini bisa diproduksi massal.
“Jika dikloning atau diproduksi massal, harganya lebih murah bisa mencapai Rp400 ribu dengan ukuran diperkecil.” Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo menyambut positif hadirnya GGS dan idenya yang luar biasa. Ia berharap ada perusahaan bisa memproduksi massal. (Haryanto/N-2)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved