Anggaran Habis untuk Atasi Kekeringan

Liliek Dharnawan
25/9/2018 03:15
Anggaran Habis untuk Atasi Kekeringan
(ANTARA FOTO/Abriawan Abhe)

KRISIS air bersih akibat kemarau masih terjadi di sejumlah daerah. Bahkan, luas wilayah yang dilanda kekeringan kian meluas, seperti yang terjadi di Kabupaten Purbalingga, Jawa Tengah.

Sementara itu, alokasi anggaran reguler yang bersumber dari APBD melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Purbalingga telah habis. Karena itu, BPBD setempat mengajukan bantuan tambahan melalui anggaran belanja tidak terduga dari kabupaten dan BPBD Jateng.

Kepala Seksi Kedaruratan dan Logistik BPBD Purbalingga, Muhsoni, mengatakan tahun ini BPBD mendapat alokasi anggaran melalui APBD sebanyak 1.000 tangki untuk menangani krisis air bersih saat kemarau.

“Dari perkiraan awal, jumlah tersebut cukup memadai karena pada kekeringan tahun lalu BPBD Purba-lingga hanya menyalurkan 333 tangki air bersih. Ternyata, kekeringan tahun ini lebih lama dan daerahnya lebih luas jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya sehingga 1.000 tangki masih kurang,” kata Muhsoni, Senin (24/9).

Kemarau panjang juga menyebabkan sumber mata air dan sejumlah sungai di Kabupaten Tegal menyusut. Waduk Cacaban di Kecamatan Kedungbanteng, Kabupaten Tegal, menyusut airnya. Saat ini debit air yang tersisa di waduk itu tinggal sekitar 9 juta meter kubik.
“Dalam kondisi normal, debit air mencapai 49 juta meter kubik,” kata Koordinator Balai Besar Wilayah ­Sungai Pemali-Juwana, Kusnadi, Senin (24/9).

Penurunan debit air Waduk Cacaban itu terjadi sejak dua bulan lalu. Selama musim kemarau terjadi penurunan ele-vasi atau ketinggian muka air waduk sekitar 7-8 cm per hari.

Dari Jawa Timur, BPBD Tuban menyiapkan tandon air untuk setiap desa yang mengalami krisis air bersih. ­Upaya tersebut untuk mempermudah BPBD Tuban mengirimkan air bersih.

Kabupaten Tuban telah menyatakan darurat kekeringan. Ada 34 desa di 10 kecamatan mengalami krisis air bersih.

“Hampir semua desa terdampak kekeringan. Pada H-1 droping air, kita berikan terpal yang berfungsi sebagai tandon air,” kata Kepala Pelaksana BPBD Tuban, Joko Ludiyono.

Kebakaran hutan
Selain kekeringan, kemarau juga menyebabkan bermunculannya titik panas. Seperti di Bangka Belitung, BPBD setempat mengatakan ada 10 titik panas bermunculan di sejumlah daerah. Kepala BPBD Babel Mikron Antariksa mengatakan, berdasarkan pantauan dari BMKG Kelas 1 Pangkalpinang, terdeteksi 10 titik panas yang diduga karena ada lahan yang terbakar.

Sementara itu, kebakaran hutan di Gunung Sumbing sisi Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah, sudah padam kemarin. Semula terlihat dua titik api pada Jumat (21/9). Namun, kemarin siang, titik api sudah tidak ada lagi.

Plt Kepala Pelaksana Harian BPBD Kabupaten Temanggung Gito Walngadi mengatakan hutan Gunung Sumbing mulai terbakar pada 10 September. ­Area yang hangus ialah hutan lindung dengan luas lebih dari 500 hektare.

Di Nusa Tenggara Timur, BMKG Stasiun El Tari Kupang mendeteksi 15 titik api di sembilan kabupaten. Titik panas itu dikhawatirkan menimbulkan kebakaran hutan dan lahan. Terlebih saat ini NTT sedang memasuki puncak kemarau, dengan suhu 34 derajat celsius di siang hari.

Pada bagian lain, ada wilayah yang justru tengah mempersiapkan kemungkinan terjadinya banjir. Kepala Balai Besar Wilayah Sungai Sumatra VIII, Suparji, mengatakan untuk mencegah banjir pihaknya membangun kolam retensi. Namun, pembangunan tersebut terkendala sulitnya pembebasan lahan. (JI/YK/RF/PO/DW/JS/TS/N-3)

 





Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Dedy P
Berita Lainnya