Kondisi Pertanian Memprihatinkan

Pra/JL/AB/X-11
22/9/2018 10:40
Kondisi Pertanian Memprihatinkan
(ANTARA)

KETUA Pusat Kajian Pertanian Pangan dan Advokasi (Pataka), Yeka Hendra Fatika, menyebut situasi pertanian di sejumlah daerah sepanjang September 2018 masih memprihatinkan.

Menurut dia, kondisi itu langsung terlihat dari kondisi persawahan di beberapa wilayah di Jawa. "Mulai dari Pati, Klaten, Wonogiri, lalu kembali ke Tasikmalaya, terlihat padi petani alami kekeringan dan diserang hama," ujar Yeka di kantor Media Group, Jakarta, kemarin.

Jika dilihat dari kejauhan, lanjutnya, lahan sawah memang sekilas tidak bermasalah. "Tapi saat jalan lebih kurang 1 kilometer ke dalam, banyak padi yang mati, banyak wereng, sundep, penuh hama. Di tempat lainnya, sama juga. Ada sawah hijau, tetapi saat kami turun, kami temui padinya hampa. Padahal hijau tinggi-tinggi, paling sebulan lagi panen, tapi mereka sakit," terangnya.

Dengan kondisi seperti itu, Yeka menyangsikan pernyataan Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman yang mengklaim bahwa kekeringan hanya 0,6% dari total luas lahan.

Menurut dia, jika total luas sawah mencapai 8,5 juta hektare, artinya hanya sekitar 50 ribu hektare sawah yang dilanda kekeringan. "Luas 50 ribu hektare itu paling hanya mencakup lima kecamatan. Kecil ketimbang kenyataan di lapangan," ucapnya.

Yeka juga meragukan optimisme Perum Bulog yang mengatakan akan mampu memiliki stok 3 juta ton pada akhir tahun.

"Kalau stok sekarang, katakanlah 2,4 juta ton, mereka kan harus mengeluarkan juga untuk rastra dan operasi pasar, setidaknya 300 ribu ton per bulan. Sampai akhir tahun 1,2 juta ton keluar. Sisa stok tinggal 1 juta ton di gudang. Mau bisa mengumpulkan 2 juta ton lagi dari mana? Sementara sekarang harga gabah sudah hampir Rp6.000 per kilogram. Ini kemarau, produksi tipis, harga pasti naik. Bulog susah bersaing dengan penggilingan," tandasnya.

Sementara itu, musim kemarau yang berkepanjangan juga telah menyebabkan sedikitnya 3.346 hektare tanaman jagung di Kecamatan Lembor dan Keca-matan Bari, Kabupaten Manggarai Barat, NTT, gagal panen.

Menurut seorang petani asal Kecamatan Bari bernama Basri Jerudin, ketiadaan pasokan air sebetulnya dapat diatasi jika ada bantuan mesin penyedot air.

"Jika tidak didukung fasilitas, kami sebagai petani jagung hanya bisa pasrah," ujar Basri.

Kepala Dinas Pertanian Manggarai Barat Anggalinus Gapul membenarkan masalah gagal panen tersebut. Selain akibat sumber air yang mengering, tambahnya, kondisi struktur tanah juga memperburuk keadaan.





Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Msyaifullah
Berita Lainnya