Hutan Gunung Guntur kembali Terbakar

(UL/SL/RF/DW/N-1)
21/9/2018 02:45
Hutan Gunung Guntur kembali Terbakar
(MI/Kristiadi)

HUTAN lindung di Blok Seureuh Jawa, Kecamatan Tarogong Kaler, Kabupaten Garut, Jawa Barat, kembali terbakar. Kebakaran diduga terjadi karena adanya aktivitas warga secara liar di lokasi penambangan galian C.

“Kebakaran hutan di Ga­rut selama ini terjadi karena faktor kelalaian masyarakat yang sedang beraktivitas di lokasi penambangan galian C pada malam hari,” kata Kepala Resort Wilayah V Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kamojang Gunung Guntur, Cecep Hidayat, kemarin. Selain kelalaian masyarakat, diakui Cecep, kebakaran di Kawasan Blok Seureuh Jawa, Gunung Guntur, pada musim kemarau panjang terjadi karena banyaknya rumput, alang-alang, dan semak belukar yang mengering.

“Kami telah meminta warga di kawasan hutan lindung ini, terutama yang masih tetap melakukan aktivitas penambangan galian C supaya tidak membakar di lokasi tersebut. Kawasan hutan yang terbakar yang ditumbuhi alang-alang, rumput, semak belukar, pohon pinus, dan kasau kaliandra,” ujar Cecep.

Sementara itu, Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Garut Dadi Zakarya membenarkan kawasan hutan Gunung Guntur sejak malam kemarin telah terbakar dan sejumlah petugas dari Damkar dibantu beberapa personel terus berupaya melakukan pemadaman. Untuk diketahui, kekeringan yang terjadi di Garut selama ini semakin meluas di berbagai wilayah yang tersebar di 42 kecamatan dan berada di 442 desa serta kelurahan.

Dampak musim kemarau yang panjang tahun ini dan menyebabkan kebakaran juga diakui BPBD Kabupaten Bantul, DI Yogyakarta. Plt Kepala BPBD Bantul, Dwi Daryanto, di Bantul, kemarin, mengatakan, kebakaran lahan di Bantul pada musim kemarau 2018 ini sebagian besar terjadi di empat kecamatan.

“Kebakaran itu sebagian besar pada lahan dan pekarangan. Kejadiannya paling banyak terjadi di daerah Dlingo, Imogiri, Kretek, dan Piyungan itu sering terjadi terutama lahan,” kata Dwi.

 Sepanjang 2018 sejak Januari sampai pertengahan September telah terjadi kebakaran di Bantul sebanyak 110 kejadian, tren kebakaran pada musim kemarau itu mayoritas menimpa lahan dan pekarang­an yang ditumbuhi tanaman. “Karena memang masih banyak lahan, hutan rakyat masih banyak, kemudian lahan tebu masih banyak dan ini yang menyebabkan kebakaran lahan rawan terjadi di daerah itu,” jelasnya.

Ia menjelaskan, kebakaran itu disebabkan ada pemantik api, sedangkan kebiasaan masyarakat selama ini yang masih sering membakar sampah dan ditinggal pergi begitu saja sehingga api merembet ke lahan sekitarnya.

Diselidiki
Kebakaran yang terjadi di hutan Taman Nasional Gunung Ciremai, Kuningan, Jabar, kemarin, berhasil dipadamkan. Namun, penyebab kebakaran yang merembet mencapai 86,7 hektare itu masih dalam penyelidikan pihak berwenang.

Kepala Balai Taman Nasional Gunung Ciremai, Kuswandono, menjelaskan, kebakaran berhasil dipadamkan pada Rabu (19/9) sekitar pukul 08.30 WIB. Adapun luas lahan yang terbakar dipetakan dengan kondisi vegetasi sebagian besar berupa semak belukar dan alang-alang.

Untuk itu, Kuswandono mengajak semua pihak untuk bersama-sama terlibat mencegah kebakaran hutan di kawasan Taman Nasional Gunung Ciremai. “Ini penting untuk tetap melindungi keanekaragaman hayati, keberlangsungan fungsi hutan sebagai penyangga kehidupan, termasuk pertumbuhan ekonomi masyarakat,” pungkasnya.

Seperti diberitakan, kebakaran terjadi di hutan TNGC pada Selasa (18/9) yang diperkirakan berawal dari blok hutan Ciwaruling (Lambosir, lereng timur Gunung Ciremai) pada ketinggian sekitar 800 mdpl. (UL/SL/RF/DW/N-1)





Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Dedy P
Berita Lainnya