Intip Orang Hamil untuk Cegah Stunting

(Liliek Dharmawan/N-1)
20/9/2018 23:15
 Intip Orang Hamil untuk Cegah Stunting
(ANTARA FOTO/Tommy Saputr)

PULUHAN anak berbaris di halaman Bustanul Athfal (BA) Mangunegara, Kecamatan Mrebet, Purbalingga, Jawa Tengah. Rafa, 4, dan Nasya, 4, bernyanyi sambil mempraktikkan bagaimana mencuci tangan yang bersih. Kemudian keduanya beristirahat sambil makan bekal dari rumah.

“Di sekolah ini, para ibu dimin­ta membawa bekal dari rumah supaya makanan untuk anak-anak benar-benar sehat,” ungkap Fardila, seorang guru BA Mangunegara. Dikatakan, pola makan yang baik harus dikondisikan sebagai salah satu upaya mencegah stunting. “Selain makanan sehat, mulai balita, kami mendidik mereka supaya berperilaku bersih, seperti cuci tangan dan sikat gigi.”

Kepala Puskesmas Mrebet I drg Rahayu Puji Astuti meminta kepada sekolah-sekolah untuk ambil bagian dalam upaya mencegah stunting. “Apalagi, di wilayah kami ada dua desa yang menjadi lokus penanganan stunting, yakni Desa Kradenan dan Selaganggeng.

Di situ ada lima kasus stunting yang ditangani. Salah satunya melibatkan sekolah. Siswa SD setempat mengikuti program gizi anak sekolah (Progras). Ada tiga sekolah di dua itu yang telah menjalankan prog­ram selama 40 hari dari total 108 hari,” jelasnya.

Rahayu menambahkan, ada banyak faktor yang menyebabkan anak mengalami stunting. Mulai asupan gizi yang kurang, penyakit seperti diare, cacingan dan infeksi lainnya, serta faktor tidak langsung, seperti lingkungan yang tidak bersih, tidak memiliki jamban, lantai masih tanah, dan lainnya.

“Bahkan, yang ironis adalah ketika gizi anak kurang akibat bapaknya merokok. Kerap orangtua lebih memilih beli rokok ketimbang telur untuk anaknya,” ungkap Rahayu.

Dengan kompleksnya faktor penyebab stunting, mustahil jika penanggulangannya hanya dilakukan dari sektor kesehatan semata. Karena itulah, khusus di Mrebet, pihaknya mengajak seluruh pemangku kebijakan dari petugas kesehatan kader posyandu, karang taruna, kades, hingga camat untuk terlibat.

Kemudian digagas program Mrebet Beraksi atau bersama atasi kasus secara integrasi yang diinisiasi Puskesmas Mrebet I. Program ini juga memanfaatkan media sosial, seperti WA dan Facebook untuk tukar informasi dan koordinasi. “Ini yang membedakan antara Mrebet dan daerah lainnya. Kami berge­rak bersama. Ada juga pelibatan setidaknya 25 kader posyandu di masing-masing desa,” ucap Rahayu.

Upaya mengatasi stunting secara spesifik melalui medis dan sensitif, yakni lewat upaya meningkatkan kualitas kesehatan dan ekonomi keluarga. Rahayu juga menyinergikan program dari provinsi, yakni Jateng Gayeng Nginceng Wong Meteng (5NG). Ada lima fase yang dipantau, yakni prahamil, kehamilan, persalin­an, dan nifas. Ada kartu P4K atau program perencanaan persalinan dan pencegahan komplikasi.

Jadi, dalam kartu tersebut bakal disebutkan mengenai taksiran persalinan, tempatnya, penolongnya, bahkan sampai transportasi apa yang dipakai serta pendonor darahnya. Untuk ibu hamil risiko tinggi, puskesmas menyediakan dokter spesialis obgyn. Ini merupakan upaya untuk mencegah stunting sedini mungkin.

Selama dua tahun menjalankan berbagai program di Mrebet, kasus angka kematian ibu (AKI) menjadi nol dan gizi buruk tinggal dua kasus dari lima kasus sebelumnya,” pungkasnya. (Liliek Dharmawan/N-1)





Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Dedy P
Berita Lainnya