Musim Tanam tidak Berpengaruh

Liliek Dharmawan
20/9/2018 03:45
Musim Tanam tidak Berpengaruh
(MI/Cikwan)

DAMPAK El Nino lemah yang terjadi di Jawa ­Tengah bagian selatan tidak akan berpengaruh pada mulainya masa tanam. Sebagian sawah di Jawa Tengah bagian selatan seperti Kabupaten Banyumas dialiri irigasi teknis.
Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Banyumas, Widarso, membenarkan bahwa dampak El Nino lemah menyebabkan mundurnya musim penghujan.

“Tetapi di Banyumas tidak terlalu terpangaruh. Apalagi, hari-hari belakangan sudah ada hujan turun. Di sisi lain, sebagian sawah di Banyumas merupakan sawah irigasi teknis. Misalnya, untuk areal sawah dengan irigasi teknis Bendung Gerak Serayu sudah mulai dialirkan airnya pada 15 September lalu,” kata Widarso.

Sebaliknya, fenomena El Nino berakibat mundurnya masa tanam padi hingga sekitar Desember. Kabid Pertanian, Dinas Pertanian dan Tanaman Pangan Kabupaten Temanggung, Harnani­Imtikhandari, mengatakan efek paling dekat dari El Nino ialah mundurnya masa tanam.

“Kita berharap Oktober minggu ketiga sudah ada hujan yang layak untuk tanam. Utamanya untuk sawah tadah hujan dan tegalan,” kata Harnani.

Persiapan musim tanam juga mulai dilakukan para petani di Grobogan, Kudus, Pati, dan Demak. Para petani sudah mempersiapkan musim tanam di tengah musim kemarau panjang.

Para petani di daerah tersebut mulai membersihkan sawah dan menata irigasi serta peralatan­ pertanian untuk menyambut musim taman pertama diperkirakan akhir bulan ini. Kepala Bidang Penyuluhan dan Sarpras Pertanian Dinas Pertanian Kabupaten ­ Grobogan, Latifawati, membenarkan persiapan memasuki musim tanam pada akhir bulan ini oleh para petani di daerahnya.

“Apalagi pintu air Waduk Kedungombo arah Klambu akan dibuka pada 25 September mendatang, menyusul pada 1 Oktober pintu air menuju Bendung Sedadi juga akan dibuka,” kata Latifawati.  

Bantuan air meningkat
Sementara itu, dampak musim kemarau, sejumlah daerah masih kesulitan mendapatkan air bersih. Seperti di Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat, ribuan sumur warga mengering. Ketua Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Tasikmalaya, Wawan R Effendi, mengatakan pihaknya masih terus mendistribusikan air bersih ke warga. “Sekarang ini pendistribusian air meningkat karena jumlah wilayah yang kekeringan meluas. Kekeringan paling parah di Tasikmalaya bagian selatan, seperti Kecamatan Cipatujah, Cikalong, Puspahiang, Cineam, dan Bojonggambir,” ujarnya.  

Dari Daerah Istimewa Yogyakarta, BPBD Kabupaten Bantul masih melakukan dropping air bersih. Hingga kemarin sudah dipersiapkan 500 tangki air bersih untuk disalurkan ke desa-desa.

“Saat ini sudah lebih dari 50% tangki yang disalurkan ke rumah-rumah warga. Kami akan terus mencukupi kebutuhan air bersih meski dari sisi pendanaan sudah habis,” ujar Kepala BPBD Kabupaten Bantul, Dwi Daryanto.

Kekeringan membuat ternak sapi di Desa Buara, Kecamatan Ketanggungan, Kabupaten Brebes, Jawa Tengah, digembalakan pemiliknya ke hutan. Mereka harus berjalan kaki sekitar 5 kilometer dari desa.  

Sutini, 41, salah satu penggembala sapi  terpaksa menggembala sapi di hutan karena kesulitan mendapatkan rumput. (TS/AS/AD/JI/AU/N-3)

 





Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Dedy P
Berita Lainnya