Indeks Sering Terkoreksi bukan Berarti Investor tidak Berminat

(Try/E-3)
19/9/2018 03:00
Indeks Sering Terkoreksi bukan Berarti Investor tidak Berminat
(ANTARA FOTO/Sigid Kurniawan)

HEAD of Investment Research Infovesta Utama Wawan Hendrayana menyampaikan kondisi pasar saat ini yang sering terkoreksi turun bukan berarti tidak laku di investor.

“Meski pasar kini negatif, sebenarnya ada beberapa emiten yang sahamnya justru naik tinggi, antara lain yang pendapatan emitennya dalam bentuk dolar AS,” kata Wawan di Gedung Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Selasa (18/9).

Selain itu, kata dia, investor juga melihat prospek ke depan perusahaan. Emiten seperti sektor logistik akan dilirik meski pendapatan mereka bukan dalam bentuk dolar AS. Pasalnya, investor melihat tren e-commerce sedang bagus.

Dengan demikian, penerimaan emiten sektor logistik di pasar akan baik karena investor melihat perusahaan harus tumbuh keuntungannya. “Jadi, tertarik atau tidaknya investor bergantung pada fundamen perusahaan,” ujar Wawan.

Namun, kondisi itu jadi tantangan bagi emiten baru untuk membuat valuasi mereka cukup murah. Dengan begitu, ketika melakukan initial public offering (IPO) atau penawaran saham perdana, valuasinya menjadi menarik bagi investor karena meski harganya turun, tidak terlalu merugi. “Jadi kalau ekonomi segera membaik, harapannya harga saham bisa naik,” ungkap dia.

Ia pun menegaskan koreksi-koreksi yang terjadi kini memang karena banyak ketidakpastian akibat ketakutan investor. Itu membuat mereka memilih menahan beli ataupun mengambil untung lebih dulu. “Tahun depan pasar cukup optimistis, apalagi tahun pemilihan presiden,” ujarnya.

Analis Artha Sekuritas Indonesia Dennies Christoper menyatakan indeks harga saham gabungan (IHSG) diprediksi melemah karena ­dorongan tekanan global yakni perang dagang yang kembali memanas.

Sementara itu, Direktur Penilaian Perusahaan BEI I Gede Nyoman Yetna menyatakan kemarin BEI meresmikan pencatatan saham perdana dua perusahaan, yakni PT Pratama Abadi Nusa Industri Tbk (PANI) dan PT Arkadia Digital Media Tbk (DIGI).

“DIGI melepas 150 juta saham ke publik melalui IPO seharga Rp200 per lembar saham. Dengan begitu, perseroan memperoleh dana Rp30 miliar. Adapun PANI meraih dana dari IPO sebesar Rp16,2 miliar yang nantinya digunakan untuk mengembangkan usaha,” ujar Nyoman seperti dikutip dari Antara.

Kemarin petang, IHSG ditutup melemah 12,46 poin atau 0,21% menjadi 5.811,79. Adapun nilai tukar rupiah menguat 13 poin menjadi 14.867 dari sebelumnya 14.880 per dolar AS. (Try/E-3)





Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Dedy P
Berita Lainnya