Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
DELAPAN warga negara asing (WNA) asal Tiongkok ditangkap petugas Imigrasi dan Polres Karawang, Jawa Barat. Mereka diamankan saat berada di salah satu kawasan Ruko Bizpark, Desa Purwadana, Kecamatan Telukjambe Timur, kemarin malam.
“Benar, kami membantu mengamankan delapan WNA sekitar Pukul 21.00 WIB. Mereka kita amankan disebuah ruko Bizpark. Kemudian kita giring ke Hotel Amaris,” ungkap Kasat Intel Polres Karawang, AKP Rezky, Selasa (18/9).
Rezky mengatakan dari hasil pemeriksaan sementara, mereka merupakan pekerja dari PT Sinohhydro untuk pengerjaan proyek kereta api cepat. “Sementara saat ini, dokumen mereka tengah diperiksa pihak Imigrasi,” ujarnya.
Pengamanan WNA tersebut, ungkapnya, berdasarkan dari informasi masyarakat. Petugas mengecek dan benar mendapati adanya WNA yang tengah berkumpul di kawasan ruko Bizpark.
Terkait hal ini, Kepala Imigrasi Kelas II Karawang, Jabar, Yopie Asmara mengakui adanya delapan WNA Tiongkok yang diamankan.
“Hari ini kita melakukan klarifikasi jika kami memang telah melakukan pemeriksaan delapan WNA asal China di Bizpark. Tim pora yang terdiri dari Kodim 0604 dan Polres Karawang serta Imigrasi Karawang mendapatkan informasi dari masyarakat,” ungkap Yopie dalam jumpa pers, kemarin malam.
Yopie menegaskan setelah dilakukan pemeriksaan kepada delapan WNA asal Tiongkok itu, jika mereka memiliki visa bisnis dengan seluruh dokumen lengkap. “Mereka memiliki dokumen lengkap, ada visa bisnis selama 30 hari,” ucapnya.
Kedelapan WNA itu berencana akan melakukan rapat untuk membahas kereta api cepat dan dipastikan bukan merupakan pekerja kasar.
“Mereka ini mau rapat untuk kepentingan bisnis di Hotel Amaris yang memang tidak jauh dari perukoan Bizpark,” ungkapnya.
Sementara itu, ramainya temuan buku berlogo komunis yang didapatkan dari salah satu WNA yang diamankan dan beredar di media sosial. Kapolres Karawang AKB Slamet Waloya membantah jika para WNA tersebut akan menyebarkan paham komunis.
“Logo palu arit itu memang lambang partai komunis di China, mereka-kan asalnya dari China. Jadi tidak ada kaitannya di Indonesia,” dalih Waloya.
Dalam kesempatan terpisah, Pandam XIV Hasanuddin Mayjen TNI Surawahadi mengatakan sebanyak 1.058 WNA yang bekerja dalam sejumlah perusahaan pertambangan di Sulawesi Tenggara (Sultra) menjadi pengawasan dan monitor dari pihak aparat TNI maupun Polri.
“Sepanjang mereka memiliki dokumen yang resmi, aparat wajib memberi perlindungan dan pengawasan sesuai dengan aturan yang ada,” kata Pangdam Hasanuddin di Kendari, Selasa (18/9).
Menurut Pangdam, pengawasan dan monitoring bagi setiap pekerja asing juga tanggung jawab masyarakat setempat. (CS/Ant/J-3)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved