Kekeringan Ekstrem Landa Sulsel

Lina Herlina
18/9/2018 01:30
Kekeringan Ekstrem Landa Sulsel
(ANTARA FOTO/Siswowidodo)

BALAI Besar Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Wilayah IV Makassar memperingatkan potensi kebakaran di beberapa wilayah di Sulawesi Selatan, akibat panjangnya hari tanpa hujan (HTH).

Kepala Bidang Data dan Informasi BBMKG Wilayah IV Makassar, Daryatno­, mengatakan pihaknya sudah memonitoring HTH di Sulawesi Selatan. HTH terpanjang lebih dari 60 hari tanpa hujan, sedangkan di Sulawesi Selatan rata-rata HTH 68 hari di sebagian kecamatan di Kabupaten Jeneponto, yakni di Kecamatan­ Benteng, Bulu Jaya, Bangkalaloe, Tarowang, dan Kelara.

“Sedangkan di Kota Makassar terjadi di Kecamatan Barombong. Kemudian, di Kabupaten Maros, kemarau ekstrem di Kecamatan Batubassi, dan di Kabupaten Takalar terjadi di Kecamatan Polongbangkeng Utara,” kata Daryatno, Senin (17/9).

Sementara itu, HTH sepanjang 65 hari terjadi di Kabupaten Bantaeng, tepatnya di Kecamatan Bonto Cinde. Dengan kondisi HTH yang begitu panjang, masyarakat harus perlu diwaspadai terjadinya kekeringan yang berdampak pada berkurangnya ketersediaan air. “Selain itu, potensi kebakaran juga cenderung sangat mudah terjadi di Sulawesi Selatan, kecuali bagian utara,” imbuhnya.

Kemarau panjang juga menyebabkan kekeringan meluas di Kebumen, Jawa Tengah. Hingga kemarin, Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kebumen telah mendistribusikan 801 tangki air bersih dengan kapasitas tiap-tiap tangki berupa 5.000 liter air untuk 49 desa di 11 kecamatan.

Kabid Kedaruratan dan Logistik BPBD Kebumen, Muhyidin, mengatakan pihaknya telah menyuplai air bersih di 49 desa yang tersebar di 11 kecamatan yang dilanda krisis air. “BPBD masih akan terus memasok air bersih sampai musim kemarau berakhir. Tahun ini kami menyiapkan 1.450 tangki air bersih guna melayani masyarakat krisis air bersih,” ujarnya.

Bantuan air bersih juga dilakukan BPBD Klaten. Hingga saat ini sebanyak 376 tangki dengan isi masing-masing 5.000 liter telah dibagikan ke 14 desa di enam kecamatan yang mengalami krisis air bersih. Anggaran dropping air tahun ini sebesar Rp200 juta dan Rp500 juta dana siap pakai. Dana ini bersumber dari APBD Klaten 2018.

Sama halnya di Kabupaten Ngawi, Jawa Timur, sebanyak 30 desa dari 45 desa di wilayah itu mengalami krisis air bersih. Menurut Kepala Pelaksana BPBD Jawa Timur, Wahyudiono, Kabupaten Ngawi merupakan daerah nomor tiga terparah yang  mengalami kekeringan.

Gabah sulit dicari
Kemarau juga berdampak pada menurunnya produksi padi. Perum Bulog Subdivre III Surakarta mulia terkendala dalam pengadaan beras. Pasalnya, panen berkurang dan harga gabah tinggi pada musim kemarau.

Kepala Bulog Subdivre III Surakarta, Titov Agus Sabelia, mengakui penyerapan beras tahun ini belum maksimal. Musim kemarau ini panen berkurang, selain harga gabah tinggi. Sama halnya di Kabupaten Brebes, pedagang beras  kesulitan mencari gabah. (FL/WJ/JS/JI/AD/N-3)

 





Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Dedy P
Berita Lainnya