Birahi Berjamaah di Desa Wonoayu

Faishol Taselan
15/9/2018 16:48
Birahi Berjamaah di Desa Wonoayu
(MI/Faishol Taselan)

SAAT mendatangi Desa Wonoayu, Kecamatan Wajak, Kabupaten Malang, anda akan dikejutkan dengan bangunan rumah warga yang terlihat bagus dan kokoh, dengan ornament modern.

Bahkan ketika memasuki Desa itu, sebuah lapangan sepak bola berstandar nasional dibuat takjub bagi siapapun yang datang ke desa  tersebut.

Padahal jika diukur dari jarak dari kota Malang cukup jauh. Dua jam untuk bisa sampai ke desa tersebut. Namun, fasilitas yang dimiliki layaknya sebuah kota kecil, dengan fasilitas memadai.

Desa berpenduduk 1.550 jiwa. Komposisi wanita lebih banyak dibandingkan pria. Wanita 784 orang dan pria 766 orang. Tak heran bila desa yang sebagian besar dihuni wanita ini maju.

Ups..! Mungkin banyak orang berfikir bahwa ini desa maju karena mengandalkan bisnis ‘birahi’. Jangan berpikiran negatif dulu ya. Desa ini maju dan berkembang serta taraf hidup warganya meningkat karena hasil dari desahan nafas hewan ternak yang mereka pelihara.

Lho kog desahan nafsu hewan ternak. Sebab, hampir 87 persen warganya mengandalkan hidup dari beternak sapi. Mereka menaikan tarif ekonominya dari sapi.

Meski sebagian besar mereka lulus SD hampir 40 persen. Namun, mereka mampu menata dan mengelola bisnis peternak sapi potong ini secara professional.

Ketika sapi yang mereka pelihara sedang birahi. Pemiliknya tersenyum dan bertanda bakal menerima reazeki. Sebabm birahi maka harapan untuk mendapat pedet (anak sapi) terwujud.

Terdapat 686 sapi betina yang mereka ternak. Jika dalam waktu bersamaan mereka birahi bersamaan maka bisa dikalkulasikan jumlah pedet yang akan dilahirkan nanti setelah dikawinkan dengan sapi jantan.    

Begitu sapinya birahi, mereka menyambutnya dengan gembira. Sesama peternak saling komunikasi untuk memberitahukna ke petugas peternak dari Kabupaten agar segera di kawinkan.

Kawinnya tidak alami dipertemukan dengan jantan melainkan dengan kawin suntik Inseminasi Buatan (IB) yang menjadi program Pemerintah Provinsi Jawa Timur dan Pemkab Malang.

"okoknya begitu sapi sapi mereka birahi, apalagi dalam waktu bersamaan yang lain juga sama, mereka ancang ancang untuk mengkawinkan,” kata Kepala Desa Wonoayu Wima Nuhwana.

Desa memiliki program dalam bulan bulan tertentu, seluruh peternak yang birahi kemudian dikawinkan secara massal lewat IB. Mereka senang karena IB secara  gratis, dan ditanggung sepenuhnya oleh Pemprov Jatim.

Semua sapi dikumpulkan di sebuah lapangan, kemudian didatangkan petugas dari Dinas Peternakan Pemkab Malang untuk memeriksa satu persatu sapi.
“Bila diketahui birahi dengan indikasi sangat jelas, maka petugas melakukan kawin suntik IB yang menjadi bagian program Pemprov Jatim. Mereka mendapatkannya secara gratis,” kata Kepala Dinas Peternakan Jatim Wemmy Niamawati.

Berapanpun jumlah sapi yang birahi secara berjamaah, petugas selalu siap didatangkan kapanpun. Bahkan, saat satu desa sapi birahi juga tetap bisa dilayani, karena memang sudah menjadi priositas.

Karena itu, Pemprov Jatim sangat serius dalam program IB ini. Tujuannya tidak lain agar keberlangsungna sapi betina dan jantan tetap terjaga. Serta mempertahankan Jatim sebagai provinsi produksi sapi potong terbesar di Indonesia.

"Saat peternak mengetahui bahwa dipastikan birahi atau sudah ada janin di dalam rahim sapi. Mereka sumringah, jangan heran kehidupan mereka lebih bergariha dan ekonomi mereka makin hari makin sejahtera,” katanya.

Tampaknya IB ini menjadi andalan bagi Pemkab Malang. Bupati Malang Rendra Kresna mengakui sejak IB intensif dilakukan di Malang, keinginan Malang sebagai swassembada sapi dengan system IB terwujud.

Dari 234.482 populasi ternak sapi potong di Kabupaten Malang pada 2017, sebanyak 86.229 ekor merupakan hasil mengikuti program inseminasi buatan. Program ini menghasilkan 62.536 ekor anak sapi setiap tahunnya.

“Bisa dibayangkan setiap tahun ada 60 ribu anak sapi (pedet) lahor tiap tahunya di Malang. Jika harga rata rata pedet Rp8,5 juta maka dalam setahun ada Rp500 miliar dihasilkan dari pedet,” ujarnya.

Jangan heran jika peternakan itu sumbangsihnya terhadap PDRB itu besar sekali, 2 sampai 3 persen. Tren positif ini akan terus dijaga agar Malang tetap menjadi sentra sapi potong di Jatim dan Indonesia.
Dari birahi sapi inilah Malang menjadi satu satunya daerah di Jatim yang sukses dalam mengembangkan program IB.

Bahkan, di Indonesia Jatim adalah provinsi yang mampu memberikan kontribusi yakni 43 persen pelaksanaan IB. Padahal, target kelahiran secara nasional 3 juta namun jatim bisa menyumabngkan 1 juta.

Jika dikalkulasi harga pedet umur 6 bulan Rp7,5 juta makan Jatim mamu menymabngkan ke pemerintah Rp78 triliun yang dihasilkan dari birahi sapi dari Jatim. (OL-4)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Akhmad Mustain
Berita Lainnya