Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
WARGA Dusun Kepuh, Desa Pusakajaya Utara, Kecamatan Cilebar, Karawang, Jawa Barat, sepekan terakhir mencium bau busuk dari kawasan konservasi mangrove. Bau itu tersebar dari ratusan limbah medis yang dibuang di sana. Ada jarum suntik, kantong infus, kapas yang dipenuhi darah, sarung tangan. Tidak sulit mencari dari mana asal muasal limbah itu berasal, sebab sebagian besar dari kemasannya tertera nama RS Budi Asih, Bekasi.
Sekretaris Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (DLHK) Karawang, Rosmalia Dewi kepada Media Indonesia, kemarin, menyatakan bahwa RS Budi Asih mengakui jika limbah medis tersebut berasal dari mereka.
“Mereka (RS Budi Asih) sudah siap mengangkut dan menyimpan limbah medis itu untuk diisolasi di rumah sakit. Hanya tinggal menunggu arahan dari polres, karena limbah itu masih di police line dan sebagai barang bukti,” ujar Dewi.
Limbah medis yang dibuang sembarangan itu harus diangkut trasporter yang memiliki izin khusus dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK). Sebab, merupakan limbah bahan berbahaya beracun (B3). Bisa menularkan penyakit atau sifatnya infeksius, karena kita tidak tahu limbah itu terpapar virus atau bakteri bekas orang sakit.
“Tentu sangat khawatir jika menular terhadap warga. Kami ini menjadi korban. Karena lokasi rumah sakitnya di Bekasi. Limbahnya dibuang ke Karawang,” pungkasnya.
Kini puluhan karung berisikan limbah medis yang mengotori kawasan konservasi mangrove di Dusun Kepuh, Desa Pusakajaya Utara, Kecamatan Cilebar, Karawang, mulai diangkut untuk diisolasi sementara.
Volume limbah medis seberat 476 kilogram atau hampir setengah ton itu dikembalikan ke RS Budi Asih di Bekasi. Bukan karena limbahnya berbau busuk, melainkan memang limbah B3 butuh penanganan khusus.
“Rencananya akan dibawa ke rumah sakit. Nanti di sana diisolasi untuk disimpan sementara sebagai barang bukti,” kata Kapolres Karawang, AKB Slamet Waloya dalam konferensi pers di TKP, Selasa (11/9).
Kepolisian, jelas Waloya, sudah memeriksa enam saksi terkait pembuangan limbah medis milik RS Budi Asih ini. Mereka yakni warga setempat, pihak rumah sakit, dan saksi ahli.
Pihak rumah sakit mengakui limbah mereka. Namun, dalam proses untuk memusnahkannya mereka bekerja sama dengan pihak ketiga (transporter PT Mahardika Handal Sentosa). Sayangnya manajemen PT Mahardika Handal Sentosa, tidak memenuhi panggilan polisi.
Sementara itu, kuasa hukum RS Budi Asih Hananta Yudha menyebutkan bahwa limbah medis itu diangkut pada Sabtu malam oleh pihak transporter. PIhak RS Budi Asih, ungkap Hananta, sudah berusaha berkomunikasi dengan pihak transporter. “Kita sudah undang juga, pihak MHS itu untuk ikut ke polres tetapi tidak datang. Kalau pernyataan MHS, intinya ada oknum di perusahaan mereka,” pungkasnya.
Sebelumnya, pada Minggu (9/9) dini hari warga dikagetkan dengan tumpukan puluhan karung berwarna kuning tercecer di kawasan konservasi mangrove. Setelah dilakukan pengecekan isi karung tersebut beriisikan limbah medis yang terdiri dari jarum suntik, kantong infus, kapas yang dipenuhi darah, dan sarung tangan. (Cikwan Suwandi/J-3)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved