Digitalisasi Pelabuhan Jadi Keniscayaan

(EP/N-1)
08/9/2018 06:00
Digitalisasi Pelabuhan Jadi Keniscayaan
(ANTARA FOTO/Ardiansyah)

PT Pelabuhan Indonesia II (persero) atau IPC Cabang Pelabuhan Panjang telah merancang road map Menuju Pelabuhan Digital 2020. Satu per satu pelayanan pelabuhan akan berevolusi menjadi serbadigital dan yang telah diluncurkan ialah tempat penimbunan sementara berbasis daring (TPS online).

General Manager Pelabuhan Panjang Drajat Sulistyo mengatakan digitalisasi pelabuhan akan mempermudah proses operasi pelabuhan, mempercepat pelayanan, serta menekan biaya logistik sebesar 20-30% yang pada akhirnya mening-katkan daya saing produk

nasional. “Bagi perkonomian daerah, digitalisasi pelabuhan ini mampu berkontribusi 0,9% terhadap pertumbuhan ekonomi. Pelabuhan bisa menjadi mesin penggerak ekonomi daerah,” ujar Drajat dalam IPC Goes to Campus bertajuk Pelabuhan Panjang Menuju Didgital Port 2020 di Universitas Malahayati, Bandar Lampung.

Untuk mewujudkan digitalisasi pelabuhan di semua lini butuh dukungan dari semua stakeholder, yaitu pemerintah, pengguna jasa pelabuhan, dan masyarakat termasuk akademisi untuk memberikan pencerahan kepada generasi muda bahwa digitalisasi itu penting untuk antisipasi dampak perubahan global. “Yang tidak kalah penting kesiapan SDM, saat ini Pelabuhan Panjang diisi oleh anak-anak muda yang punya semangat perubahan. Masih ada waktu untuk bersiap digitalisiasi penuh pada 2020,” kata dia.

Lebih lanjut, diungkapkan, Pelabuhan Panjang merupakan pelabuhan terbesar nomor dua di Indonesia. Bahkan 85% kapal yang singgah ialah kapal internasional, Mirisnya pelabuhan ini tidak begitu dikenal.

Pengamat ekonomi Universitas Lampung Ambya menambahkan digitalisasi adalah keharusan untuk bersaing di era revolusi industri 4.0. Ia meyakini ekonomi daerah dapat berkembang pesat jika pelabuhan telah berbasis digital.

Ketua Komisi Ekspedisi dan Logistik Kadin Lampung, Seno Harto, menambahkan dari penilaian performa pelabuhan oleh Bank Dunia, Indonesia masuk peringkat ke-46 dari 176 negara yang disurvei, di bawah Singapura, Malaysia, dan Vietnam. “Padahal, potensi kita lebih besar. Maka, digital port penting dalam meningkatkan pelayanan, mempercepat proses, dan mengurangi biaya logistik.” (EP/N-1)





Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Dedy P
Berita Lainnya