Tempe tidak Terpengaruh Dolar

Liliek Dharmawan
06/9/2018 03:15
Tempe tidak Terpengaruh Dolar
( FOTO ANTARA/Noveradika)

DEPRESIASI rupiah terhadap dolar AS belum terlalu berdampak pada perajin tempe di Banyumas, Jawa Tengah. Selama ini kedelai yang digunakan untuk bahan baku tempe masih diimpor dari Amerika Serikat. Harga kedelai hanya naik dari Rp7.300 per kg menjadi Rp7.500 per kg.

Meski demikian, belum terlalu berdampak pada perajin tempe di Banyumas. Mereka belum menaikkan harga jual tempe.

Ngatikah, 38, perajin tempe di sentra industri tempe Desa Pliken, Kecamatan Kembaran, Banyumas, mengatakan hingga saat ini harga tempe masih Rp5.000 ribu per 10 biji.

“Belum ada kenaikan harga tempe. Memang harga kedelai impor naik dari Rp7.300 menjadi Rp7.500 per kg. Naiknya Rp200 per kg sehingga kami masih tetap mempertahankan harga tempe. Tidak tahu nanti kalau harga kedelai semakin melonjak,” kata Ngatikah yang sehari-harinya menghabiskan 30 kg kedelai untuk membuat tempe.

Distributor kedelai di Purwokerto, Tanto membenarkan bahwa kenaikan harga kedelai belum signifikan. “Di tingkat distributor, harga kedelai baru naik Rp100 per kg. Naiknya dolar terhadap rupiah belum berpengaruh,” jelas Tanto.

Diakuinya, harga kedelai pernah meroket hingga Rp10 ribu per kg di saat Amerika Serikat sedang mengalami kekeringan. “Kalau depresiasi rupiah belum berdampak,” pungkasnya.

Kebutuhan beras
Masih terkait dengan masalah pangan, stok beras di gudang-gudang Bulog masih tercukupi. Stok beras mencukupi mulai dua bulan hingga 13 bulan. Di Klaten, Jawa Tengah, ketersediaan­ beras di Bulog Subdivre III Surakarta aman hingga 13 bulan.
Dari Jawa Timur, Bulog Divre Jatim menggelontorkan beras medium dan sembako ke sejumlah pasar tradisional­ dan Rumah Pangan Kita (RPK).

Kepala Bulog Divre Jawa Timur Muhammad Hasyim mengatakan penggelontoran beras dan sejumlah komoditas, seperti gula, minyak, dan terigu untuk menstabilkan harga. “Kami memastikan bahwa stok beras di gudang Bulog Jawa Timur saat ini cukup untuk memenuhi kebutuhan hingga tahun depan,” kata Hasyim, Rabu (5/9).

Sebanyak 80,5 ton beras medium sudah digelontorkan ke 25 pasar di kota atau kabupaten di Jawa Timur. Pelepasan puluhan ton beras ini untuk menstabilkan harga beras di bawah harga eceran tertinggi.

Dari Kalimantan Tengah, kebutuhan beras aman untuk lima bulan ke depan. “Saat ini ada sekitar 6.000 ton beras yang disalurkan, dan setiap bulannya akan disalurkan sekitar 1.100 ton,” kata Kepala Divre Kalteng, Faisal.

Sementara itu, di Jawa Barat, Dewan Pengawas Bulog, Spudnik Sujono, menjelaskan stok beras aman hingga April mendatang. “Kebutuhan pangan masyarakat harus terpenuhi. Penyaluran­ ini dalam upaya komersialisasi beras kemasan dengan cakupan­ lebih luas.”

Di Jawa Tengah, harga beras di sejumlah pasar di Banyumas dan Cilacap cenderung stagnan dan tidak mengalami lonjakan. Saat ini harga jual beras medium bertahan pada kisaran Rp8.500 hingga Rp8.700 per kg. “Kalau nanti ada kenaikan harga, barulah kita menggelar operasi pasar,” kata Kabulog Banyumas, Sony Supriyadi.

Saat ini harga beras di Jawa Tengah bagian selatan, seperti Banyumas, Cilacap, dan sekitarnya cenderung turun, sedangkan di Pekalongan, Bulog Subdivre setempat mulai kesulitan melakukan optimalisasi pengadaan beras karena dampak musim kemarau. (JI/JS/BN/FL/HS/DG/SS/BB/N-3)

 





Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Dedy P
Berita Lainnya