Berbuat Baik agar Hidup Lama di Dunia

(Nurul Hidayah/N-3)
04/9/2018 23:30
Berbuat Baik agar Hidup Lama di Dunia
(MI/Nurul)

PULUHAN anak berpakaian hitam dan ikat kepala khas Sunda memanggul aneka jenis kerupuk. Ada pula yang memanggul untaian padi.  Di belakangnya, rombongan gadis membawa padi yang diletakkan di atas nampan yang dihias menggunakan janur. Di belakangnya tampak sejumlah pemuda yang memayungi mereka menggunakan payung terbuat dari janur tiga tingkat. Sebagai makna jika manusia itu memang diciptakan berpasangan, seperti adanya siang dan malam, panas serta dingin.

Barisan berikutnya ialah barisan ibu-ibu yang membawa padi di atas kepala (nyuhun) disusul rombongan bapak memikul aneka hasil bumi lainnya. Nyuhun berarti memohon, melambangkan sifat seorang ibu yang tidak putus-putusnya memohon, membimbing, serta mendidik putra-putrinya dengan penuh kasih sayang, kelembutan, dan kehalusan budi.

Sementara itu, rombongan terakhir melambangkan peranan seorang ayah sebagai pemimpin rumah tangga dan mencari nafkah untuk menghidupi keluarganya.

Semuanya bergerak dari empat penjuru angin dan berkumpul di satu titik, yaitu halaman depan Paseban. Empat penjuru angin ini menandakan jika kasih sayang Tuhan tiada terkira dan bisa datang dari mana saja.

Urutan sarat makna tersebut terlihat pada arak-arakan peserta pada puncak peringatan Seren Taun masyarakat adat karuhun urang Sunda Wiwitan di Cigugur, Kabupaten Kuningan­, Senin (3/9).

Setelah atraksi tarian adat Buyung, angklung Badui, tari buncis serta arak-arak replika binatang, para peserta arak-arakan menumbuk padi secara serentak dengan alu dan lesung. Sebanyak 22 kuintal padi ini melambangkan bilangan 20 dan 2. Bilangan 20 menggambarkan adanya unsur anatomi tubuh manusia, seperti bulu, kuku, kulit, dan seterusnya.

Sementara itu, angka 2 mengacu pada pengertian hidup kita memiliki unsur berpasangan. Penumbukan padi ini menggambarkan masyarakat Cigugur merupakan masyarakat agraris dan mengandalkan pertanian.

“Sebagai wujud rasa terima kasih, padi ini kami tumbuk bersama-sama,” kata Ketua Yayasan Tri Mulya Tri Wikarma, sekaligus ketua pelaksana acara Seren Tahun Masyarakat Sunda Wiwitan Cigugur, Dewi Kanti.

Semua yang hadir tanpa melihat suku, agama, kaya, dan miskin bersama-sama menumbuk padi. Benturan lesung dan alu yang menggema di antara ratusan orang menghasilkan rangkaian nada yang indah untuk didengar. Masyarakat menyambut antusias upacara yang setiap tahun dilaksanakan itu.

“Seperti filosofi Prabu Niskala Wastu Kancana menyebutkan pakena gawe rahayu pikeun heubeul jaya dina buana,” ungkap Dewi memaknai upacara Seren Taun.

Artinya, berbuat baiklah agar lama jaya di dunia sebab kebaikan sosial yang mereka lakukan akan berdampak bagi masyarakat banyak.

Terlebih tema Seren Taun kali ini ialah Memperkukuh adat untuk memperkuat karakter bangsa, dianggap sangat kontekstual di tengah masyarakat.

“Kita jangan lagi bicara minoritas dan mayoritas. Sepanjang masih bicara minoritas dan mayoritas, bangsa ini tidak akan pernah selesai dalam membangun kebangsaannya,” kata Moeldoko, Kepala Staf Kepresidenan yang ikut hadir dalam upacara Seren Taun. (Nurul Hidayah/N-3)

 





Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Dedy P
Berita Lainnya