Kementan Terus Tingkatkan Produksi Padi di Tengah Kekeringan

Micom
31/8/2018 18:10
Kementan Terus Tingkatkan Produksi Padi di Tengah Kekeringan
(ANTARA FOTO/Syifa Yulinnas)

KEMENTERIAN Pertanian terus melakukan upaya-upaya peningkatan produksi padi di seluruh wilayah Indonesia. Upaya peningkatan produksi padi untuk mencapai swasembada pangan berkelanjutan dilakukan dengan mendorong petani untuk melakukan aktivitasi pertanaman di sepanjang tahun.

Kebijakan ini harus didukung dengan ketersediaan air yang cukup, terutama pada musim kemarau. Berdasarkan informasi dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), puncak musim kemarau tahun ini diperkirakan terjadi pada Agustus hingga September.

BMKG juga memprediksi musim kemarau tahun ini akan sedikit lebih panjang dan musim hujannya mengalami kemunduran hingga 20 hari. Hal ini disebabkan adanya pengaruh anomali iklim global El-Nino Southern Oscillation (ENSO) pada sebagian wilayah Indonesia.

Areal persawahan yang terkena kekeringan hingga periode 13 Agustus 2018 seluas 127.101 hektare dan puso 25.405 ha.

Kekeringan terbesar terjadi pada Mei hingga Juli 2018, yang terkena seluas 87.827 ha dan sampai terjadi puso seluas 22.153 ha.  Provinsi Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur menjadi provinsi yang paling terdampak kekeringan.

Persentase luas sawah terkena puso pada periode Mei-Juli 2018 di Jawa dari 1.292.502 ha sawah terkena puso 18.428 ha di antaranya, atau 1.42%.  Sementara di luar Jawa dari 1.916.527 ha, terkena puso 3.725 ha atau 0,19%.

Data di Ditjen Tanaman Pangan Kementan per 13 Agustus 2018, persentase puso di Pulau Jawa hanya mencapai 1.42% dan di luar Jawa 0,19%, sehingga secara nasional lahan sawah terkena puso hanya 0,69%. Dampak puso masih sangat kecil jika dibandingkan dengan luas tanam yang ada, sehingga tidak akan mengganggu produksi nasional.

Rendahnya dampak puso pada tahun ini sudah diantisipasi sejak awal melalui bantuan pompa air ke petani serta kegiatan pembangunan embung, dam parit, long storage, pompanisasi, perpipaan yang dapat menambah pasokan air bagi tanaman terutama di musim kemarau.

Selain itu, perbaikan saluran irigasi tersier untuk menjamin volume air cukup sampai pada lahan sawah yang berada di ujung saluran.

Dalam rangka mempertahankan produksi pertanian khususnya padi, dalam menghadapi musim kemarau ini, Kementan telah menurunkan tim khusus ke lokasi-lokasi kekeringan di wilayah sentra produksi padi.

Dirjen Prasarana dan Sarana Pertanian Kementan, Pending Dadih Permana, mengatakan bahwa tugas dan fungsi dari tim khusus ini untuk melakukan koordinasi dengan pihak terkait antara lain TNI, Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat, serta pemerintah daerah setempat dalam memetakan permasalahan, negosiasi penggelontoran air dari bendung/bendungan, serta terlibat langsung melaksanakan pengawalan gilir giring air sesuai jadwal yang telah disepakati.

"Secara umum permasalahan kekeringan yang terjadi disebabkan oleh curah hujan yang sedikit dan kondisi penggelontoran debit air dari bendung/bendungan mengalami penurunan. Hal ini disebabkan oleh aktivitas pemeliharaan bendung dan saluran irigasi serta penggunaan bendung untuk kepentingan lain.

 Pada tingkat pengaturan debit air, penyusunan rencana pengalokasian air dilaksanakan masih berdasarkan asas pemerataan per bangunan, belum fokus pada upaya penyelamatan tanaman yang kondisinya menjelang puso," tutur Dadih, Jumat (31/8).

Pada sebagian titik, infrastruktur bangunan air kondisinya sudah rusak. Serta sedimentasi tinggi pada saluran pembawa (irigasi).

"Belum sepenuhnya sinergi di antara instansi terkait dalam upaya menangani kekeringan" ujarnya.

Sementara, Rahmanto, Direktur Irigasi Pertanian Kementan, menjelaskan bahwa Ditjen PSP sudah membentuk posko penanganan kekeringan dan menurunkan tim khusus pada beberapa wilayah yang terkena kekeringan antara lain di Kabupaten Indramayu, Kabupaten Karawang, Kabupaten Bandung, Kabupaten Tuban, dan Kabupaten Boyolali.

"Apabila terjadi kekeringan pada tanaman dapat menghubungi No HP 08128498158", ujar Rahmanto.

Di Kabupaten Indramayu, terangnya, melalui kegiatan sinergitas antarinstansi terkait dan pengawalan gilir giring, serta pompanisasi irigasi, dapat menyelamatkan lahan sawah yang terancam kekeringan seluas 1.329 ha di Kecamatan Losarang, sementara di Kecamatan Kandanghaur terselamatkan lahan sawah seluas 445 ha. (RO/OL-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya