Ratusan Nisan Muncul di Waduk Gajah Mungkur

Widjajadi
30/8/2018 04:45
Ratusan Nisan Muncul di Waduk Gajah Mungkur
(MI/ Widjajadi)

BEBERAPA hari terakhir, ­seiring menyusutnya volume air di Waduk Gajah Mungkur (WGM) akibat kemarau, ratusan makam lama yang ditenggelamkan sejak 1978 muncul di sana. Tepatnya di Desa Kenteng, Kecamatan Wuryantoro, Kabupaten Wonogiri, Jawa Tengah. Demikian juga jembatan lama di Wuryantoro kelihatan kembali ketika dasar waduk mengering.

Namun, Kepala Divisi Jasa Air dan Sumber Air (ASA) Perum Jasa Tirta I, Didit Priambodo, menegaskan susutnya volume air masih jauh dari ambang batas bawah yang disyaratkan. WGM masih berfungsi secara penuh untuk irigasi pertanian, air baku, pariwisata air, dan juga untuk pembangkit listrik (PLTA) Gajah Mungkur.

“Penyusutan menjelang akhir musim kemarau ini masih belum normal karena masih jauh di atas ambang batas bawah yang disyaratkan. Elevasi masih berada di angka 129 meter di atas permukaan laut, sementara batas bawah ialah 127 meter dpl, sehingga masih bisa berfungsi penuh,” ungkap Didit, Rabu (29/8).

Munculnya ratusan batu nisan di sejumlah desa yang dulu ditenggelamkan menjadi objek tersendiri bagi wisatawan lokal. Tampak nisan-nisan kuno pahatan era pra-1980-an. “Kemarau di Wonogiri ini sudah terjadi sejak April silam. Jika kemarau sampai Oktober, tentu akan lebih banyak lagi daratan yang muncul di kawasan dalam waduk,” tutur Sukino, petani Wuryantoro.

Pola tanam
KEBERADAAN embung di beberapa titik di Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, tak cukup membantu memasok air ke lahan-lahan persawahan. Kapasitas ­volume yang relatif kecil di setiap embung hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan air ­masyarakat.

“Kita punya embung, tapi kapasitasnya kecil. Itu juga air baku yang hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan masyarakat. Tidak untuk pengairan lahan sawah,” kata Kepala Bidang Sumber Daya Air, Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kabupaten Cianjur, Wiguno Prihantono, kRabu (29/8).

Dengan kondisi itu, jelasnya, yang bertepatan musim tanam ketiga, para petani sudah diarahkan menanam komoditas palawija. Distribusi air ke lahan-lahan persawahan di Kabupaten Cianjur masih mengandalkan jaringan irigasi yang terbagi ke tujuh wilayah pengelolaan. Namun, untuk memaksimalkan distribusi, masih dibantu irigasi desa di masing-masing.

Hal sama dialami petani di Wonogiri, dengan kondisi WGM saat ini, kebutuhan air irigasi untuk tanaman pangan tidak terlalu banyak. Petani harus melaksanakan pola tanam sesuai kebijakan, yakni seusai musim tanam gadu harus berganti ke palawija. “Nanti pertengahan November masuk ke musim tanam 1. Semua stakeholder, kalau saling memahami dan menyikapi bijak musim kemarau, kondisi WGM akan tetap aman,” ungkap Didit.

Sementara itu, sebagian wilayah di Jawa Barat diguyur hujan yang cukup deras, kemarin. Berdasarkan informasi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Bandung, di beberapa daerah di Bandung Raya, Sukabumi bagian utara, dan Bogor terjadi hujan meski hanya sesaat. Hujan juga turun di wilayah Kabupaten Bandung Barat. Meski hujan hanya sebentar, warga menyambutnya dengan penuh syukur karena sudah lebih dari sebulan belum turun hujan. Turunnya hujan membuat jalan raya menjadi tidak terlalu berdebu. (BB/DG/CS/J-3)





Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Dedy P
Berita Lainnya