Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
MUSIM kemarau yang diikuti kekeringan sejak 4 bulan lalu telah menyebabkan terjadinya musim paceklik di beberapa daerah. Produksi padi tahun ini di Bali, misalnya, diprediksi turun sekitar 10 ribu ton dalam bentuk padi kering giling.
“Dari produksi 845 ton berupa gabah kering giling pada 2017 diprediksi hanya 835 ribu ton tahun ini,” ujar Kepala Bidang Produksi Dinas Pertanian Tanaman Pangan Provinsi Bali, I Wayan Sunarta, Selasa (28/8).
Dijelaskan, faktor kondisi sejumlah lokasi terutama di dua kabupaten. Jembrana dan Klungkung, yang rawan krisis air masa tanamnya hanya 1,5 kali dalam setahun. Berbeda dengan lahan-lahan subur lain yang rata-rata dua kali setahun.
Sejumlah langkah telah diambil, misalnya mengimbau petani untuk menanam palawija seperti kacang-kacangan, jagung, cabai, dan bahkan ada juga tanaman bunga. Dengan begitu, lahan yang agak kering bisa tetap produksi walau tidak berupa padi.
Selain itu, lanjut Sunarta, faktor alih fungsi lahan juga ikut berperan dalam penurunan produksi padi. Sunarta menyebutkan pada 2017 ada sekitar 900 hektare lahan sawah yang beralih fungsi sehingga cukup signifikan mengurangi produksi beras di Bali.
Di Indramayu, penyerapan beras oleh Bulog dari petani, baru mencapai 37%. Tingginya harga gabah menjadi penyebabnya. Kepala Subdivisi Bulog Indramayu Anwar Kurniawan, kemarin, menjelaskan penyerapan hingga Agustus baru mencapai 37,15%.
Jumlah itu, diakuinya, belum mencapai 50% dari prognosis. Salah satu penyebabnya ialah masih tingginya harga gabah di tingkat petani, yang tidak masuk dengan harga pembelian yang ditetapkan pemerintah.
Untuk diketahui, harga pembelian pemerintah untuk gabah kering panen (GKP) Rp3.700/kg. Padahal harga gabah di tingkat petani saat ini mencapai Rp5.000 hingga Rp5.200/kg. Untuk gabah kering giling (GKG) Rp6.000/kg.
Jika kondisi seperti itu terus terjadi, menurut Anwar, tidak menutup kemungkinan harga beras akan kembali tinggi bulan depan. Terlebih beberapa bulan ke depan tidak ada lagi panen akibat musim kemarau yang saat ini tengah berlangsung.
Penuhi target
Tidak seperti di daerah lain, penyerapan beras Bulog Sub-divre Cianjur, Jawa Barat, justru melampaui target. Menjelang akhir Agustus, realisasi penye-rapannya sudah 27.060 ton dari yang ditargetkan 22.000 ton.
“Data ini hingga 27 Agustus. Tingkat penyerapan beras di Bulog Subdivre Cianjur sudah 123%,” kata Kepala Seksi Pengadaan Bulog Subdivre Cianjur, Dedi Prayoga, Selasa (28/8).
Terlampauinya target itu mengindikasikan kemarau di Cianjur saat ini tak terlalu berdampak signifikan ke produksi padi. “Hal itu ditunjang karena bersamaan masuknya kemarau masih terjadi panen rendeng.”
Dari Tuban, Jawa Timur, dinas pertanian setempat menyatakan hingga saat ini tidak ada tanam-an pangan yang terdampak kekeringan. Hal itu karena sebagian besar tanaman pangan sudah selesai dipanen. Bahkan, realisasi panen padi pada dua bulan terakhir mencapai 16.424 hektare dengan produksi 97.311 ton. (UL/LD/AD/BB/YK/DY/N-1)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved