KENAIKAN harga beras yang terjadi saat ini tidak dinikmati petani di wilayah Kecamatan Sawit, Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah. Pada musim panen ini harga jual gabah mereka justru anjlok.
Santoso,60, petani di Desa Manjung, Kecamatan Sawit, menuturkan di wilayah itu gabah petani paling mahal dihargai Rp1.000.000 per patok. Padahal, pada musim panen sebelumnya dari lahan seluas 5.500 meter persegi itu dia bisa mendapatkan hasil Rp2.500.000.
''Ini sama saja dengan tidak panen. Lah untuk biaya traktor, benih, tanam, obat, dan pupuk saja sudah Rp500.000. Jadi, selama tiga bulan saya cuma dapat hasil Rp500.000,'' katanya.
Nasib Santoso masih lebih beruntung dibandingkan dengan Kirman,67, petani dari Desa Pundung. Pada musim panen kali ini gabahnya hanya dihargai Rp600.000 per patok. Kondisi tersebut membuat Kirman kesulitan biaya untuk musim tanam berikutnya.
''Ya terpaksa golek (cari) utangan,'' katanya lirih.
Pemilik penggilingan padi di Desa Manjung, Sri, mengatakan murahnya harga gabah petani pada musim panen ini disebabkan kualitasnya yang rendah. Selain rumpun tanaman padi jarang-jarang karena serangan hama, gabahnya juga banyak yang tidak berisi.
''Sekarang ini harga paling tinggi cuma Rp2.000.000 per patok,'' katanya.
Murahnya harga jual gabah petani itu berbanding terbalik dengan harga jual beras saat ini. Berdasarkan pantauan di Pasar Pengging, Boyolali harga beras kualitas medium yang sebelumnya Rp10.500/kg naik menjadi Rp10.700/kg. Beras kualitas premium dari Rp12.200/kg menjadi Rp12.500/kg. (Q-1)