Karhutla Diklaim Terus Menurun

Patna Budi Utami
24/8/2018 02:15
Karhutla Diklaim Terus Menurun
( ANTARA FOTO/HS Putra)

KEBAKARAN hutan dan lahan (karhutla) di Tanah Air dari tahun ke tahun terus berkurang seiring dengan dilakukannya berbagai langkah oleh pemerintah bersama berbagai pihak termasuk masyarakat, di antaranya melakukan penegakan hukum terhadap para pembakar hutan.

“Kami terus melakukan berbagai upaya optimal dalam menangani dan mengantisipasi kebakaran hutan, termasuk penegakan hukum,” kata Kepala Pusat Data dan Informasi Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) Mahfudz di Pekanbaru, Riau, beberapa waktu lalu.

Selain itu, KLHK bersama instansi terkait yang tergabung dalam Satgas Penanggulangan Bencana Kabut Asap akibat Karhutla juga melakukan penyuluhan kepada masyarakat mengenai bahaya dan dampak karhutla. Satgas terdiri atas berbagai unsur yang dikoordinasikan KLHK, di antaranya Manggala Agni, TNI, Polri, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), pemerintah provinsi (pemprov), Basarnas, dan Masyarakat Peduli Api (MPA).

“Ada peningkatan penanganan kasus dan meningkatkan peran masyarakat dalam tata kelola hutan,” ujar Mahfudz.

Berdasarkan data, beberapa tahun terakhir luas karhutla di Tanah Air menurun drastis. Pada 2015 luas lahan dan hutan yang terbakar tercatat 2,6 juta hektare (ha). Pada 2016 berkurang menjadi 14.604 ha. Angka itu kembali menurun pada 2017 menjadi 11.127 ha. Adapun pada tahun ini hingga Juli lalu luas kebakaran tercatat 4.666 ha.

Penurunan karhutla juga terjadi di Provinsi Riau. Hingga akhir pekan lalu, kasus karhutla di sana seluas 4.196,71 ha. Kepala Pusat Pengendalian Pembangunan Ekoregion (P3E) Sumatra Amral Fery mengungkapkan karhutla tersebar di 11 dari 12 kabupaten dan kota yang ada di Provinsi Riau, yakni di Kabupaten Rokan Hilir 1.528 ha, Meranti 938,31 ha, Bengkalis 519,2 ha, Indragiri Hulu 290,5 ha, dan Siak 146 ha. Kemudian di Kabupaten Pelalawan seluas 100 ha, Kampar 96 ha, Rokan Hulu 40,5 ha, Indragiri Hilir 38,5 ha, Kota Dumai 1.526 ha, dan Kota Pekanbaru seluas 46,6 ha. Ia menyebutkan, pada 2015 luas karhutla di Riau 183.809 ha, 2016 seluas 85.220 ha, dan 2017 tercatat 6.841 ha.

Menurut Amral, berkurangnya karhutla merupakan andil semua pihak yang tergabung dalam Satgas Penanggulangan Bencana Kabut Asap dan masyarakat. Untuk mencegah karhutla, satgas yang berada di posko melakukan pat-roli bersama sekaligus memberi penyuluhan kepada masyarakat agar tidak membakar lahan serta mengedukasi mereka mengenai bahaya dan dampak karhutla. Di Provinsi Riau saat ini terfapat 65 posko yang meliputi 225 desa rawan karhutla.

Di musim kemarau ini, BMKG meminta waspadai potensi karhutla. Kepala BMKG Dwikorita Karnawati menjelaskan pengaruh musim kemarau meluas ke Sumat-ra bagian selatan, Kalimantan, dan sebagian Sulawesi, yang membuat  rawan terjadi karhutla di wilayah tersebut. “Kondisi atmosfer dan cuaca relatif kering sehingga mengakibatkan tanaman menjadi mudah terbakar,” tuturnya.

BMKG telah menganalisis informasi titik panas berdasarkan citra Satelit Terra Aqua (Lapan). Diketahui terjadi peningkatan jumlah titik panas di beberapa wilayah. Wilayah yang cukup signifikan mengalami peningkatan titik panas yaitu Kalimantan Barat (798), Kalimantan Tengah (226 titik), Jambi (19), dan Sumatra Selatan (13). (Ind/SL/RF/WJ/DY/J-3)





Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Dedy P
Berita Lainnya