Jadi Warga Kehormatan Brimob, Try Sutrisno Kenang Perjuangan M Jasin

Micom
21/8/2018 10:15
Jadi Warga Kehormatan Brimob, Try Sutrisno Kenang Perjuangan M Jasin
(Ist)

CIRI khas polisi Indonesia ialah polisi pejuang.  Sebagaimana TNI adalah tentara pejuang, polisi Indonesia juga polisi pejuang yang lahir karena berjuang untuk merebut dan sekaligus mempertahankan kemerdekaan.

Kemerdekaan bukanlah hadiah dari penjajah tetapi direbut dengan pengorbanan para pahlawan. Oleh karena itu, dalam konteks ini, baik tentara dan polisi merupakan bagian tak terpisahkan dari bangsa Indonesia yang sejatinya bangsa pejuang.

Demikian ditegaskan oleh Wakil Presiden ke-6 RI, Jenderal TNI (Pur) Try Sutrisno, dalam pidatonya menyusul dikukuhkannya mantan Panglima ABRI itu sebagai warga kehormatan Korp Brigade Mobil (Brimob), yang berlangsung di Monumen Perjuangan Polri, Surabaya, Jawa Timur, Senin (20/8).

Hadir dalam acara tersebut antara lain, Ketua Umum Paguyuban Keluarga Besar Brimob (PKBB) Komjen Pol (Pur) Imam Sudjarwo, mantan Kapolri Jenderal Pol (Pur) Rusman Hadi, mantan Wakapolri Komjen Pol (Pur) Jusuf Manggarbarani, Kapolda Jatim Irjen Pol Machfud Arifin, Komandan Korps Brimob  Irjen Pol Rudy Sufahriadi, pelaku sejarah AKBP (Pur) Mukari dan Mudjono, Ketua Ikatan Keluarga Alumni Lemhanas (IKAL) PPSA XXI Komjen Pol (Pur) Arif Wachjunadi, alumnus PPSA XXI AM Putut Prabantoro, Lina SE, dan Taufik Dwi Cahyono, yang juga putra dari Try Sutrisno.

"Tentara Indonesia memiliki tiga jatidiri yakni sebagai tentara pejuang yang lahir karena berjuang, tentara rakyat karena berasal dari seluruh lapisan rakyat dan tentara nasional yaitu tentara yang dimiliki bangsa dan bukan dimiliki partai atau golongan. Demikian pula Polri adalah polisi pejuang seperti halnya tentara Indonesia. Peran Polri tidak bisa dilepaskan dari sejarah pertempuran Surabaya November 1945," ujar Try.

Menurut dia, sifat kejuangan itu diwujudkan dalam bentuk cinta perdamaian, persatuan, rela berjuang bukan karena uang tetapi karena keterpanggilan serta merangkul kesatuan dan persatuan. Oleh karena itu, adanya makam pahlawan di mana-mana sebenarnya untuk menunjukkan dan sekaligus sebagai simbol bahwa bangsa Indonesia adalah bangsa pejuang.

Polisi istimewa di bawah M Jasin, diurai Try, lebih jauh mempunyai peranan penting dalam pertempuran Surabaya tersebut. Jasin menggerakkan arek-arek Surabaya terlibat dalam pelucutan tentara Jepang dan sekaligus melawan tentara Sekutu yang datang ke Indonesia melalui Surabaya.

Bahkan, begitu hebatnya pertempuran Surabaya, diceritakan bagaimana seorang ibu dengan rela anak-anaknya berjuang menyuruh anak bungsunya berjuang sekalipun kedua anak laki-laki lainnya telah gugur.

"Yang dimaksud arek-arek Surabaya bukan hanya penduduk asli Surabaya , tetapi segenap orang Indonesia yang tinggal di Surabaya. Hotel Oranye merupakan saksi bisu sejarah hebatnya pejuang kita menyobek bendera Belanda. Yang menyobek adalah pemuda Paiman. Oleh karena itu, Tugu Monumen Perjuangan Polri sekaligus menjadi saksi sejarah keterlibatan Polri dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia yang berjuang bersama arek-arek Surabaya," papar Try melanjutkan ceritanya.

Ia pun berpesan agar Tugu Monumen Perjuangan Polri tidak boleh menjadi kusam dan harus terus dipelihara. Kusamnya sebuah monumen akan menghilangkan semangat yang ada dalam monumen tersebut yang dibangun untuk memelihara spirit monumen tersebut.

"Monumen itu spirit yang hidup, harus dipelihara, tidak boleh kusam. Jika kusam, spirit yang ada di dalamnya ketika dibangun, akan menghilang. Zaman boleh berubah, generasi berganti, tetapi jangan melupakan sejarah. Setiap generasi harus diberitahu dan diingatkan tentang sejarah perjuangan bangsa. Oleh karena itu, saya berterima kasih karena telah diingat oleh generasi penerus dengan diangkat sebagai warga kehormatan Brimob," tegas Try.

Alasan pemberian warga kehormatan karena Try Sutrisno dinilai mengetahui perjalanan sejarah Polisi Istimewa yang sebelumnya bernama Tokubetsu Keisatsutai , dan yang kemudian disebut Brimob.

Kehormatan itu diberikan karena kesaksiannya atas sejarah pembentukan Kepolisian Negara Republik Indonesia serta keterlibatan Polisi Istimewa dalam perang 10 November 1945 dengan tokoh sentralnya M Jasin, yang pada waktu itu berpangkat Inspektur  Polisi Tingkat Satu (Iptu).

Kelak kemudian pada 2015, Komjen Pol (Pur) M Jasin diangkat sebagai pahlawan nasional oleh pemerintah. Lebih dari itu, Monumen Perjuangan Polri untuk pertama kali ditandatangani oleh Try Sutrisno ketika menjabat sebagai Panglima ABRI pada 2 Oktober 1988. (RO/OL-1)





Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Dedy P
Berita Lainnya