Dampaknya Bisa Meluas, Semburan Lumpur harus segera Dihentikan
Heri Susetyo
29/5/2015 00:00
( ANTARA FOTO/Eric Ireng)
MEMASUKI sembilan tahun munculnya semburan lumpur panas Lapindo hingga saat ini belum menunjukkan tanda-tanda semburan akan berhenti. Padahal dampak semburan lumpur akan lebih luas apabila tidak dihentikan dengan metode tertentu. Dampak itu di antaranya adalah subsidence atau penurunan tanah yang mengancam warga serta
dampak kerusakan lingkungan karena lumpur panas dibuang ke Kali Porong.
Belum diketahui sampai kapan semburan lumpur panas yang keluar sejak 29 Mei 2006 ini akan berhenti. Keluarnya lumpur panas dari sumur Banjar Panji 1 di Desa Renokenongo, Kecamatan Porong, Sidoarjo, Jawa Timur, tersebut sudah menenggelamkan ribuan rumah di tiga kecamatan.
Padahal semburan lumpur ini masih terus keluar dan volumenya saat ini masih berkisar 30 ribu hingga 60 ribu meter kubik per hari. Sehingga kemungkinan meluasnya dampak lumpur panas ini bisa terjadi. Minimal dampak tersebut adalah adanya subsidence atau penurunan tanah.
Penurunan tanah ini membahayakan pemukiman atau sarana infrastruktur yang berada di kawasan Porong dan sekitarnya. Sementara dampak lain adalah kerusakan lingkungan akibat dibuangnya lumpur ke Kali Porong.
Alumnus Institut Teknologi 10 November Surabaya (ITS) Djaja Laksana mengatakan semburan lumpur ini bisa diatasi dengan Teori Bernoulli.
Penanganan lumpur yang dilakukan selama ini dinilai Djaja hanya akan menghambur-hamburkan uang rakyat sebab belum diketahui secara pasti kapan semburan lumpur itu akan berhenti.
Menurut Djaja, Teori Bernoulli adalah teori yang berusaha menyeimbangkan tekanan air semburan dengan gaya gravitasi bumi. Prinsipnya adalah menghentikan semburan lumpur dengan memanfaatkan kekuatan semburan lumpur itu sendiri. Sehingga sebanyak apapun lumpur yang keluar tidak akan meluber ke mana-mana karena justru dikembalikan ke perut bumi. Sayangnya pemerintah dalam hal ini Badan Penanggulangan Lumpur
Sidoarjo belum percaya keberhasilan teori tersebut.
"Bayangkan kalau tidak dihentikan semburan ini, berapa puluh triliun lagi uang rakyat yang masih terus akan dikeluarkan," kata Djaja. (Q-1)