Migrasi ke Elpiji 12 Kg Picu Kelangkaan Elpiji 3 Kg di Sleman
Agus Utantoro
29/5/2015 00:00
(ANTARA/Andreas Fitri Atmoko)
KEPALA Dinas Energi Sumber Daya Air dan Mineral (ESDAM) Kabupaten Sleman, Yogyakarta, Sapto Winarno, mengakui sebagian warga Sleman mengalami kesulitan untuk mendapatkan elpiji bersubsidi atau tabung 3kg.
Ia mengemukakan kesulitan warga untuk mendapatkan elpiji 3 kg itu meluas hingga hampir di seluruh wilayah Sleman. Karena itu, jelasnya, Pemkab Sleman bersama Pertamina dan Hiswana Migas (Himpunan Wiraswasta Nasional Minyak dan Gas) DIY menggelar operasi pasar elpiji 3 kg.
''Digelar di seluruh kecamatan di Sleman, yakni sebanyak 17 kecamatan. Masing-masing kecamatan mendapat alokasi 560 tabung,'' jelasnya.
Dikatakan, untuk membeli gas pada operasi pasar itu warga harus menunjukkan KTP setempat dan maksimal dua tabung. “Tidak boleh berulang, karena itu pembeli kemudian ditanda dengan mencelupkan salah satu jarinya ke dalam tinta stempel,†katanya. Harga gas per tabung 3kg itu sebesar Rp15.500.
Penyebab kelangkaan, jelas Sapto, berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Ia menyebutkan tahun-tahun sebelumnya karena ada selisih harga jual antara DIY dengan Jateng. Saat itu harga di Jateng lebih sehingga banyak warga “menyelundupkan†elpiji 3 kg ke Jawa Tengah.
Namun melalui SK Gubernur DIY Nomor 28/2015, HET (harga eceran tertinggi) antara DIY dan Jateng sama. ''HET gas 3kg di tingkat sub penyalur atau pangkalan Rp15.500 per tabung,'' katanya.
Karena itu, terjadinya kesulitan mendapatkan gas elpiji isi 3kg saat ini diperkirakan karena adanya migrasi pengguna gas. Mereka yang semula menggunakan gas isi 12 kg tidak beralih ke bright gas tetapi ke elpiji 3 kg.
Disebutkan, jika pada Januari–Februari, penjualan masih di bawah kuota maka pada Maret sudah melampaui kuota bulanan.
Kuota gas elpiji 3kg untuk Kabupaten Sleman, Januari 2015 sebanyak 925.760 tabung, serapannya di pasar sebanyak 918.000 sedangkan Februari dari alokasi sebanyak 808.480 tabung serapannya 805.400 tabung.
Sementara alokasi pada Maret sebesar 841.520 tabung, serapannya 844.120.
''Untuk April dan Mei belum ada data valid,'' kata Sapto.
Ia menduga lonjakan permintaan pasar itu karena migrasi pengguna gas. Selain itu, Sapto juga menduga banyak warga yang mulai membuat kue-kue kering untuk persiapan dijual pada puasa mendatang.
Di Sleman, tambahnya, terdapat 1.365 pangkalan dengan jumlah pangkalan terbesar di Kecamatan Depok sebanyak 150 pangkalan. ''Kami masih akan membuka peluang bagi masyarakat yang ingin membuka pangkalan,'' katanya.
Langkah ini dimaksudkan untuk semakin memperluas jaringan distribusi. (Q-1)