Bupati Tabanan Siap Luncurkan Tari Kolosal Rejang Sandat Ratu Segara

Micom
15/8/2018 21:25
Bupati Tabanan Siap Luncurkan Tari Kolosal Rejang Sandat Ratu Segara
(Ist)

TARIAN Kolosal Rejang Sandat Ratu Segara yang merupakan garapan dari Bupati Tabanan Ni Putu Eka Wiryastuti beberapa hari lagi akan diluncurkan. Berbagai macam persiapan pun telah dilakukan, baik dari segi penari, koreo gerakan, maupun dari segi tampilan sang penari.

Seperti yang telah direncanakan, peluncuran Tarian Kolosal Rejang Sandat Ratu Segara tersebut akan dilangsungkan tepat pada 18 Agustus 2018 sekaligus pada pembukaan even Tanah Lot Art and Food Festival 2018.

Bupati Eka menyebutkan, pihaknya sudah melakukan beberapa kali gladi untuk mempersiapkan secara matang peluncuran Tarian Kolosal Rejang Sandat Ratu Segara akan dimulai tepat pada pukul 18 lebih 18 menit Wita yang melibatkan sebanyak 2.800 penari wanita yang terdiri atas 10 kecamatan di Tabanan.

Menurutnya, Tari Ratu Rejang Segara merupakan tarian rasa syukur terhadap Ibu Pertiwi atau Ratu Segara. Dalam artian, manusia harus eling (mengingat) bahwa kehidupan itu berasal dari beliu (pertiwi). Bahkan, ini juga merupakan bentuk kasih dan ucapan terima kasih pada alam pada atau sang ibu karena sudah menjaga seluruh mahkluk hidup tanpa diminta.

"Artinya ini bentuk tarian syukur, serta mempunyai tujuan ajeg-kan Bali dan jagat Nusantara," tutur Eka pada saat gladi kotor di DTW Tanah Lot, Rabu (15/8).

Dalam mempersiapkan gelaran yang sangat akbar itu, Bupati Eka tidak sendirian, tetapi dibantu oleh I Wayan Juana Adi Saputra (Dadong Rerod) sebagai penata tari dan penata tabuh dibantu oleh I Wayan Muder.

"Kita sudah terbiasa selalu berkolaborasi dan bekerjasama dengan semua elemen untuk sama-sama mensukseskan acara ini, selama pementasan nanti juga bekerja sama dengan polisi air, tim lifeguard agar memantau dan berjaga di bibir pantai supaya pelaksanaan aman. Tarian Rejang Sandat Ratu Segara sudah latihan selama 3 bulan, pembuatannya sudah 3 bulan, penyempurnaan ada sekitar 3 minggu," terang Eka.

Ia juga menambahkan tarian ini bersifat sakral, menari juga tidak boleh kotor kain. Termasuk jumlah yang menari harus kelipatan sembilan, bisa 18, 27, dan seterusnya. Sebab, angka ini, menurutnya, merupakan lambang kasih sayang.

"Alam ini kan kurang kasih, kurang sayang, sifat ibunya kurang, artinya dengan tarian ini semua alam mahkluk hidup dan seluruh isinya mudah-mudahan kasih," katanya.

Karena saking sakralnya, sebelum dipentaskan akan ada upacara khusus. Termasuk dirinya juga H-3 pementasan akan melaksanakan persembahyangan keliling untuk memohon restu atau mepekeling supaya pementasan berjalan lancar.

"Salah upacara khusus itu upakaranya berisi tumpeng robyog, ada pula pisang mas pisang raja, serta pejati. Yang jelas kekuatan Bali-Jawa. Nanti juga kami akan taburkan bunga melati 11 kilogram keliling saat hari H," tegasnya.

Ia juga menambahkan, jika nanti kalau ada penari yang tidak kuat atau mengalami kerauhan, dibiarkan begitu saja. Sebab, saat mereka menari tidak boleh yang lain ikut goyah, serta tidak boleh ada yang mengambil penari yang kerauhan tersebut.

"Jadi tidak boleh di 11 menit memotong tarian itu atau orang masuk ke arena tarian itu tidak boleh. Nanti juga saya doktrinisasi mereka ajarkan trik spiritual agar mereka bisa menjaga diri masing-masing," tambahnya.

Bupati Eka berharap, dengan adanya tarian tersebut, dapat menjaga keseimbangan Nusantara, tidak ada perpecahan, kekerasan, pertentangan antarumat beragama, semua rukun satu dan saling mengasihi.

"Sepanjang kita rukun selalu ada kemenangan. Kalau kita sudah rukun dan damai, maka Nusantara pun akan damai, mudah-mudahan," tandas Eka. (RO/OL-1)





Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Dedy P
Berita Lainnya