Warga Belangian Menanti Energi Listrik

Denny Susanto
15/8/2018 13:25
Warga Belangian Menanti Energi Listrik
(MI/Denny S)

WAKTU menunjukkan pukul 12.30 Wita pada Jumat (10/8). Namun tidak terdengar suara azan sebagai tanda masuknya waktu salat Jumat. Padahal, jarak mesjid dari dermaga desa saat rombongan mahasiswa dari Banjarmasin tiba tidak terlalu jauh, hanya beberapa ratus meter.

Rombongan mahasiswa Universitas Nahdlatul Ulama Kalimantan Selatan dari Fakultas Perencanaan Wilayah dan Kota yang dipimpin dosen bernama Riam Faradigma akan melakukan kegiatan bakti sosial di Desa Belangian.

"Ayo kita bergegas waktu salat sudah masuk," tutur Paman Yuli, 56, motoris yang membawa rombongan.

Dijelaskan Anang, tidak ada listrik di desa ini saat siang hari.

Bagi warga setempat, listrik baru bisa dinikmati saat malam hari karena pihak PLN baru mengaktifkan aliran listrik pada pukul 18.00 Wita hingga pagi jam 06.00 Wita. Tidak hanya keterbatasan energi listrik, desa terpencil ini juga sulit signal telpon dan jaringan Internet. Sinyal telpon hanya muncul di beberapa titik seperti di atas dermaga, itu pun sekadar menelepon dengan sinyal naik turun.

Bagi orang kota, datang ke desa ini bisa membuat 'mati angin', terlebih bagi mereka yang kesehariannya tidak lepas dari internet dan gawai. Namun, bagi mereka yang menyukai petualangan, desa terpencil di hulu Waduk Riam Kanan ini menyuguhkan panorama alam nan indah.

Saat berangkat dari Dermaga Tiwingan di tepi Waduk Riam Kanan, motoris perahu motor atau taksi air yang melayani rute desa-desa sekitar waduk ini terpaksa harus mempercepat laju perahu motor nya mengingat hari itu Jumat dan saat itu waktu sudah menunjukkan pukul 10.30 Wita. Sementara perjalanan normal memakan waktu dua jam.

Desa Belangian atau sering disebut Belangian Kahung merupakan sebuah desa yang berada di bagian paling ujung Waduk Riam Kanan dengan luas 21,25 kilometer persegi. Perjalanan membelah waduk yang menjadi sumber air baku PDAM tiga wilayah ini Kota Banjarmasin, Kota Banjarbaru, dan Kabupaten Banjar menggunakan perahu motor ini membawa kita menyusuri waduk dengan pemandangan alam yang sungguh memikat.

Deretan pegunungan kaki Meratus sambung menyambung di kanan-kiri, perumahan penduduk di pulau-pulau kecil, deretan keramba apung milik warga serta binantang-binatang peliharaan warga. Seolah mengikuti tren kekinian banyak spot baik yang dibuat warga maupun pihak pengelola Taman Hutan Raya Sultan Adam dijadikan objek wisata.

Pemandangan indah dan air waduk yang tenang membuat perjalanan tidak terasa lama. Perahu motor yang disewa Rp500 ribu pulang pergi (sudah harga diskon) akhirnya sampai di dermaga Desa Belangian. Sebuah papan bertuliskan 'Selamat Datang di Desa Belangian' di atas dermaga menyambut kami.

Desa Belangian Kahung ini diresmikan oleh pemerintah  pada 1985. Desa ini merupakan gabungan tiga desa relokasi akibat proyek pembangunan waduk. Desa ini pun pascapembangunan waduk sudah dua kali dipindah karena berada di daerah tidak aman banjir sehingga warga diminta pindah ke kawasan perbukitan Gunung Kahung.

Kepala Desa (Pembakal) Belangian, Fahrudin, menyebutkan, saat ini jumlah penduduk desanya sebanyak 90 keluarga atau 360 jiwa. Umumnya warga desa di sini berprofesi sebagai petani ladang dan sayur mayur selain mengandalkan hasil kebun berupa buah-buahan lokal.

Selain lokasi yang terpencil dengan problem transportasi, kendala lain desa ini adalah tidak adanya sinyal telepon. Pembakal di sini menggunakan radio amatir (Rapi) untuk berkomunikasi dengan dunia luar. Listrik pun hanya menyala saat sore hingga pagi hari.

Permukiman warga berjarak sekitar 300 meter dari dermaga. Saat masuk ke Desa Belangian kita akan melihat kondisi desa yang tertata rapi dan indah terlebih pandangan kawasan pegunungan yang mengelilingi desa sangat indah.

Desa Belangian berstatus desa wisata dan menjadi jalur masuk ke kawasan wisata alam lembah dan hutan pegunungan Kahung kaki pegunungan Meratus. Oleh Pemerintah Provinsi Kalsel dalam beberapa tahun terakhir, kawasan ini dijadikan salah satu destinasi wisata alam andalan. Bahkan, kawasan ini diusulkan menjadi kawasan geopark, karena kondisi hutannya masih alami.

Dikatakan Pembakal Fahrudin, ekonomi warga di wilayahnya mengandalkan sektor pertanian. Banyak dari keluarga di Desa Belangian berhasil menyekolahkan anak-anak mereka hingga jenjang perguruan tinggi dari hasil pertanian.

"Sejak menjadi desa wisata dan mulai ramainya wisatawan yang datang ikut berpengaruh pada ekonomi masyarakat," tuturnya.

Karena itu, warga desa berharap adanya pembenahan jaringan telepon, listrik yang terbatas, dan minimnya fasilitas penunjang wisata agar desa ini dapat lebih maju. Apalagi, desa ini sudah dicanangkan sebagai tempat wisata, sehingga diharapkan dapat meningkatkan pendapatan warga dan kemajuan pembangunan warga.

Desa Belangian ini merupakan satu dari 12 desa yang ada di sekitar waduk dan masuk wilayah Kecamatan Aranio, Kabupaten Banjar. Waduk Riam Kanan sendiri merupakan sumber air bagi operasional pembangkit PLTU Ir PM Noor yang berkapasitas 30 Megawatt. Sayang justru masyarakat desa sekitar belum bisa menikmati energi listrik secara memadai.

Padahal, pihak PLN wilayah Kalsel-Kalteng mengklaim saat ini mengalami surplus energi listrik hingga 290 MW. Rasio elektrifikasi di Kalsel sendiri mencapai 96% atau masih ada sekitar 100 desa yang belum menikmati listrik.

Menurut sejarahnya, pembangunan waduk Riam Kanan dimulai pada 1958, diprakarsai oleh Ir Pangeran Mochamad Noor yang merupakan Gubernur pertama Kalsel dan mantan Menteri Pekerjaan Umum di era pemerintahan Presiden Soekarno. Waduk tersebut diresmikan oleh Presiden Soeharto pada 1973.

Desa-desa yang terkena proyek waduk dan  ditenggelamkan, terpaksa mengungsi ke daerah lebih tinggi di sekeliling waduk sehingga tercipta banyak desa dan kini berada di wilayah Kecamatan Aranio. Desa-desa tersebut antara lain Desa Tiwingan Lama, Tiwingan Baru, Liang Toman, Kalaan, Banua Riam, Bunglai, Bukit Batas, Apuai, Rantau Bujur, Balangian dan lain-lain. Hingga kini, mayoritas desa-desa sekitar waduk Riam Kanan masih merupakan desa tertinggal.
(OL-1)





Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Dedy P
Berita Lainnya