Pangan Organik untuk Masa Depan

Denny Susanto
21/5/2015 00:00
Pangan Organik untuk Masa Depan
(Antara)
FAJAR baru saja menyingsing, saat sejumlah pekerja di pabrik pengemasan PT Sarinah Agro, sudah bercucuran keringat. Dengan cepakat mereka menyusun kardus bermerk perusahaan makanan ternama untuk diisi beras merah organik.
PT Sarinah Agro adalah perusahaan yang dibentuk kelompok tani Sarinah, di Kecamatan Ciparay, Kabupaten Bandung, Jawa Barat. Di pabrik skala kecil atau industri rumah tangga ini, proses pengemasan beras merah dilakukan untuk dijual ke sejumlah daerah di Tanah Air dan diekspor ke mancanegara.

Butiran beras merah pilihan yang sebelumnya telah melalui proses penyortiran tersebut, ditimbang dan dimasukkan dalam kantong kemasan ukuran 1 kilogram, 2 kilogram dan 5 kilogram, sesuai pesanan.

"Setiap bulan, kami mampu memproduksi sebanyak 12 ton beras merah dan beras putih organik," ungkap Tuti Waryati, Ketua Gapoktan Sarinah, saat menerima kunjungan rombongan kehumasan dan Dinas Pertanian Kalimantan Selatan, kemarin.

kelompok tani ini sudah beberapa kali mendapatkan penghargaan bidang pertanian, baik di tingkat provinsi maupun nasional. "Sebenarnya permintaan terhadap beras organik sangat besar. Namun karena keterbasan hasil panen beras organik membuat permintaan dari dalam dan luar negeri banyak yang ditolak," lanjut Tuti.

Gapoktan Sarinah membina sekitar 30 kelompok kecil petani di Kecamatan Ciparay. Luas lahan pertanian organik kelompok ini mencapai 50 hektare dan tengah dikembangkan menjadi 125 hektare.

Diakui Tuti, bisnis beras organik lebih menguntungkan dibandingkan bisnis beras nonorganik. Namun untuk menghasilkan produk pangan organik berstandar ekspor, harus lolos berbagai persyaratan ketat yang ditetapkan perusahaan.

"Tidak mudah untuk memasok beras organik ke perusahaan makanan maupun ekspor. Terlebih dahulu produk harus lolos uji, mulai dari proses penanaman padi sampai pengolahan produksi," aku perempuan paruh baya ini.

Sejak 2009 para petani di Kecamatan Ciparay beralih ke sistem pertanian organik. Awalnya hanya segelintir petani, dan kini terus berkembang karena jauh lebih menguntungkan.

Di tahun pertama peralihan pertanian organik ini, hasil panen petani merosot tajam dan diperlukan waktu hingga empat kali musim tanam untuk mengembalikan kesuburan tanah dengan mengandalkan pupuk organik. Adanya dukungan dari pemerintah daerah yang memberikan subsidi dan bantuan benih maupun pupuk, membuat pertanian organik di daerah ini, bahkan di Jawa Barat terus berkembang.

Kepala Seksi Serealia Dinas Pertanian Jawa Barat, Poppy FA, mengatakan pengembangan pertanian organik sudah dimulai sejak 2004 dan baru pada 2011 hasilnya kelihatan. "Luas lahan pertanian padi organik di Jabar, baru mencapai 50 ribu hektare dari total luas lahan pertanian padi yang mencapai 930.029 hektare," paparnya.

Provinsi Jawa Barat adalah salah satu daerah penyangga pangan nasional dengan produksi padi per tahunnya mencapai 12 juta ton gabah kering giling.

Belajar dari Jawa Barat, Asisten II bidang Pembangunan Pemprov Kalimantan Selatan Mariatul Asiah, mengungkapkan Kalsel mulai mengembangkan pertanian organik walau masih dalam skala kecil. "Kalsel masih fokus pada peningkatan produksi beras, tetapi pertanian organik juga mulai dikembangkan."

Pertanian organik baru dilaksanakan di Kabupten Hulu Sungai Utara, dengan luas tanam beberapa ratus hektare saja.
Dengan luas lahan pertanian padi 500 ribu hektare, tingkat produksi Kalsel masih tergolong rendah yakni 2,1 juta ton gabah kering giling. "Penyebabnya, 75% lahan yang ada hanya ditanam satu kali setahun. Petani lebih menyukai menanam padi lokal jenis siam unus, yang masa tanamnya mencapai 8 bulan. (N-3)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Admin
Berita Lainnya