Tidak Ada Kecurangan Pelaksanaan UN SMP dan SMA di Lembata

Alexander P Taum
21/5/2015 00:00
Tidak Ada Kecurangan Pelaksanaan UN SMP dan SMA di Lembata
(MI/Palce Amalo)
KEPALA Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga Kabupaten Lembata, Nusa Tenggara Timur, Sakarias Paun, membantah adanya kecurangan dalam pelaksanaan Ujian Nasional SMP dan SMA di wilayahnya. Penelitian langsung ke sekolah-sekolah yang diduga terjadi kecurangan sudah dilakukan, dan hasilnya tidak ditemukan adanya kecurangan tersebut.

"Saya sudah berkoordinasi dengan berbagai pihak, dan turun langsung ke sekolah yang dimaksud. Saya juga sudah mengklarifikasi langsung ke sekolah, dan tidak menemukan adanya kesalahan dan kecurangan dalam pelaksanaan UN SMP dan SMA," tuturnya, kemarin.

Sebelumnya, Media Indonesia memberitakan soal adanya dugaan soal UN di wilayah ini. Sakarias menambahkan penyelenggaraan UN SMP dan SMA di Lembata berjalan aman dan tidak ada kecurangaan sebagaimana yang  diberitakan. Kasus ini pun sedang didalami Polres Lembata.

Ada beberapa faktor yang tidak memungkinkan terjadinya kebocoran. Pertama, adanya pengawas dari sekolah lain, sehingga tidak mungkin dia mau membantu murid yang bukan anak didiknya. Kedua, ada pengawasan ketat yang dilakukan polisi, dan ketiga, ada 20 paket soal yang berbeda, yang membuat kebocoran soal sulit diterima akal.

Menurut Sakarias, pihak yang memberikan informasi kecurangan itu sudah dimintai keterangan di Polres Lembata. Jika terbukti dia melakukan tindakan yang merugikan, maka yang bersangkutan harus mempertanggungjawabkan perbuatannya.

"Saya tidak tahu motivasinya. Yang pasti, dia tidak boleh menyebar informasi yang merugikan banyak pihak, apalagi informasi yang dia sampaikan itu tidak benar," tandasnya.

Pada kesempatan yang sama, Kepala SMPN II Nubatukan, Yosep Ama Suban mengaku terkejut dengan adanya pemberitaan kecurangan. "Tidak ada kecurangan di sekolah kami, yang disebutkan dilakukan guru dan pengawas dengan mengedarkan kertas jawaban kepada siswa. Saat UN, semua guru mata pelajaran UN sedang mengawas di sekolah lain."

Dengan adanya 20 paket soal, juga tidak memungkinkan bagi guru untuk mengerakan dan membagikan kunci jawaban 20 paket soal tersebut. "Pola pelaksanaan UN SMP 2015 sangat baik karena meminimalisasi kecurangan. Pola pengawasan silang antarsekolah, melibatkan polisi dalam pengamanan dan paket soal sebanyak 20 jenis, menuntut kejujuran.
Sebelumnya, Media Indonesia edisi 6 Juni 2015 memberitakan adanya pengakuan guru dan siswa di Lembata tentang guru dan pengawas UN yang bekerja sama meloloskan kunci jawaban. (N-3)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Admin
Berita Lainnya