Habibie Ingin Bangsa Indonesia Mandiri

Rudi Kurniawansyah
10/8/2018 06:00
Habibie Ingin Bangsa Indonesia Mandiri
(MI/RUDI KURNIAWANSYAH)

PARA peneliti muda diimbau bersikap konsisten dan berorientasi pada kebutuhan rakyat, dengan inovasi yang dikembangkan dari dasar-dasar pemikiran ekonomi pasar Pancasila.

Karena itu, para peneliti harus konsolidasi dan bekerja sama sebagai satu tim dari Sabang sampai Merauke

"Pasarnya ya orang-orang, yang beli kan ada di timur, utara. Kan kita sudah mempunyai satelit sekarang," kata Presiden ketiga Indonesia, Bacharuddin Jusuf Habibie, seusai memberikan pidato kunci pada Pembukaan Kegiatan Ilmiah bertema 'Riset, Inovasi Menuju Ekonomi Era Industri 4.0' dalam rangka Hari Kebangkitan Teknologi Nasional (Hakteknas) di Pekanbaru, Riau, kemarin.

Dalam pidatonya, Habibie mengatakan, meskipun teknologi terus berkembang, dan dunia saat ini disebut-sebut memasuki era industri 4.0, tetap ada yang jauh lebih penting daripada teknologi.

"Robot tetap tidak akan bisa menggantikan manusia yang memiliki otak yang diciptakan Tuhan," ujarnya.

Habibie menginginkan bangsa Indonesia menjadi bangsa yang mandiri. Bahkan, bangsa Indonesia harus bisa menciptakan teknologi untuk membangun kapal dan pesawat sendiri seperti yang dicita-citakan para pendiri bangsa (founding father), Bung Karno.

"Harus bisa mandiri, bisa buat kapal dan pesawat untuk bangsa. Itu semangat 1955 saat saya di Jerman. Semangat dari Bung Karno yang menyekolahkan kami untuk mengisi kemerdekaan," ungkap Habibie saat memberikan pidato kunci pada pembukaan kegiatan ilmiah, dengan tema "Riset, Inovasi Menuju Ekonomi Era Industri 4.0" sebagai rangkaian peringatan Hari kebangkitan Teknologi Nasional (Hakteknas) 2018 di Hotel Labersa Pasir Putih, Kampar, Riau, kemarin.

Karya nyata
Habibie mengatakan kemerdekaan harus diisi dengan karya-karya nyata. Karena itu, pada 1957 saat sedang menyelesaikan S2, Habibie terlibat aktif bersama teman-teman mahasiswa Indonesia lainnya di dalam Kongres mahasiswa Indonesia, merancang program pembangunan di Indonesia.

"Kongres pemuda saya ikut aktif pada 1957. Kala itu, saya sedang menyelesaikan S2 di Jerman. Saya dan kawan-kawan, Pak Wardiman dan banyak yang lainnya, bersama-sama kami susun program pembangunan untuk Indonesia," paparnya.

Setelah itu, lanjut Habibie, dari pengalamannya bersama dua profesor Jerman yang berusia 61 tahun, sedangkan Habibie yang juga profesor masih belia berusia 29 tahun berhasil menciptakan pesawat penumpang terbesar di dunia, yaitu pesawat Airbus A-300. Karena itu, Habibie berkesimpulan bangsa Indonesia bisa menciptakan teknologi sendiri.

"Lalu teman saya profesor Jerman itu mengirimkan ucapan, yaitu betapa besar pesawat terbang yang kita ciptakan walau Anda dan saya kecil orangnya. Ini menggarisbawahi lagi bahwa kita sama dengan Jerman, tidak ada bedanya," tegas Habibie.

Ketika kembali ke Tanah Air, Habibie berpikir harus secepatnya membuat karya nyata. "Waktu saya pulang dalam waktu sesingkat-singkatnya harus membuat karya nyata. Saat itu, pendidikan tidak cukup. Apalagi lapangan kerja, pasti tidak cukup. Saya mulai pada akhir, dan berakhir pada awal. Saya pelajari produk-produk di pasar. Dari produk itu saya copy lalu saya jual," tuturnya.

Sementara itu, Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti), Mohamad Nasir, mengatakan, Indonesia memiliki potensi yang besar untuk dapat bersaing pada era revolusi industri 4.0. Oleh sebab itu, Kemenristekdikti akan merancang program adaptasi untuk menyesuaikan pendidikan saat ini, guna menghadapi era tersebut.

 





Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Dedy P
Berita Lainnya