MUI Sumatra Utara Jalin Hubungan dengan Ulama Tiongkok

Puji Santoso
19/5/2015 00:00
MUI Sumatra Utara Jalin Hubungan dengan Ulama Tiongkok
(MI/Puji Santoso)
MAJELIS Ulama Indonesia (MUI) Sumatra Utara menawarkan kerja sama dengan warga muslim dan ulama Tiongkok. Bentuknya adalah pertukaran mahasiswa muslim atau dosen, antara Indonesia, khususnya Sumatra Utara dan Tiongkok.

"Tujuannya untuk menambah khazanah dan ilmu pengetahuan umat Islam di kedua negara," kata Ketua MUI Sumatra Utara, Prof Abdullah Syah, saat bertemu Ketua Lembaga Penelitian, Studi Agama, dan Etnik, Institut Guang Dong Prof Ma Jianzhao, di Guangzhow, Tiongkok, hari ini.

Seperti yang dilaporkan Puji Santoso, wartawan Media Indonesia langsung dari Guangzhou, ajakan serupa juga diserukan Abdullah saat bertemu Ketua Majelis Ulama Provinsi Ningxia, Yang Fa Ming, di Yincuan, sehari sebelumnya.

Lebih jauh, Abdullah mengatakan, Indonesia, khususnya Sumatra Utara, memiliki sejumlah kampus dan lembaga-lembaga keagamaan seperti pesantren yang dapat dimanfaatkan para mahasiswa muslim asal Tiongkok untuk memperkaya wawasan Islam dan dakwah Islam. Demikian juga di sejumlah wilayah di Tiongkok, dapat pula dikunjungi untuk memperdalam kebudayaan Islam dan penelitian ilmu dan dakwah Islam.

Pada kesempatan yang sama, dia juga mengundang para juara musabaqoh tilawatil Qur'an (MTQ) asal negara yang dulu berjuluk Negeri Tirai Bambu yang pernah menjuarai MTQ tingkat lokal untuk datang ke Medan. "Anak-anak muda Islam di Tiongkok ini sangat bersemangat mempelajari Al Qur'an. Karena itu, sangat pantas kalau kami mengundang mereka ke Medan, agar pengetahuan mereka tentang Al Qur'an semakin meningkat," ujarnya.

Kunjungan atau muhibbah MUI Sumatra Utara dilakukan ketua dan sejumlah pengurusnya, serta pengurus Indonesia Tionghoa (Inti) Sumatra Utara, yang dipimpin Indra Wahidin. Mereka datang ke sejumlah kota besar di Tiongkok, di antaranya Guangzhou, Yinchuan, dan Shanghai.

Di semua kota, delegasi ini bersilaturahmi ke sejumlah tokoh muslim, sekaligus melihat dari dekat perkembangan dan kebudayaan Islam di Tiongkok.

Kepada rombongan itu, Prof Ma Jianzhao menyatakan umat Islam di Provinsi Guang Dong, Ningxia, dan Shanghai, mendapat keleluasaan untuk mengembangkan agama Islam secara otonom. Di Guang Dong, jumlah umat Islam mencapai 300 ribu orang atau 1,3% dari total umat Islam di Tiongkok, yang berjumlah 23 juta jiwa. Saat ini jumlah kaum muslim mencapai 1,7% dari total 1,3 miliar jiwa warga Tiongkok.

"Kami sangat bergembira ada tawaran dari ulama Indonesia. Kami akan mempertimbangkannya dan menawarkannya kepada para mahasiswa kami di Guangzhou dan Ningxia," ujar Prof Ma Jianzhao, yang seorang mualaf ini. (N-3)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Admin
Berita Lainnya