Sumbangan untuk Warga Rohingya tidak Pernah Terhenti

Ferdian Ananda
18/5/2015 00:00
Sumbangan untuk Warga Rohingya tidak Pernah Terhenti
(Warga etnis Rohingya di tempat penampungan di Kuala Langsa, Aceh--(ANTARA/Rony Muharrman))
LOKASI penampungan imigran Rohingya dan Bangladesh di GOR Lhoksukon, Aceh Utara, selalu ramai dan disesaki para pengunjung, akhir pekan lalu. Kebanyakan mereka membawa bantuan, baik makanan, minuman hingga pakaian bekas.
Orin, mahasiswa Politeknik Lhokseumawe mengaku telah mengumpulkan pakaian yang sudah jarang ia pakai. Pemuda ini telah mengumpulkannya sejak dua hari yang lalu.

Tindakannya ini pun mendapat dukungan dari teman-temannya. "Sejak dua hari lalu saya membongkar isi lemari, mencari pakaian yang jarang dipakai. Pulang dari kampus, singgah di sini untuk mengantarkan pakaian ini. Teman-teman juga ikut bantu," ujarnya.

Orin menambahkan solidaritas warga Aceh terketuk begitu saja tanpa ada yang mengkoordinasikan. Apalagi, saat melihat langsung kondisi para pengungsi yang sangat mengkhawatirkan, juga mendengar cerita mereka yang dianiaya dan dibunuh di negaranya.

"Saat ini sebagai orang yang memiliki sedikit kelebihan dari pada mereka, tidak salahnya kami berbagi. Kesedihan yang mereka rasakan ikut menggerakkan hati nurani kami untuk saling berbagi," tambah Orin.

Dia berharap Pemerintah Indonesia segera melakukan tindakan dengan memberikan bantuan dan kepastian hukum kepada mereka agar tidak telantar lebih lama. "Kami khawatir jika mereka dipulangkan, akan mengalami siksaan, yang bisa mengancam nyawa mereka."

Sebanyak 582 orang imigran Rohingya asal Myanmar dan warga Bangladesh terdampar di pantai Blang Geulumpang, Kecamatan Seunuddon, KabupatenAceh Utara, Minggu (10/5). Sebelumnya, mereka direkrut oleh seseorang untuk dipekerjakan di Malaysia.

Di lokasi pengungsian, ratusan warga memadati GOR dan berinteraksi dengan imigran Rohingya dan Bangladesh. Di pintu masuk ruang penampungan terlihat tumpukan pakaian bekas sudah menggunung.

Beberapa di antara warga terlihat akrab meski berkomunikasi dengan bahasa isyarat. Beberapa anak perempuan berusaha menghibur pengungsi dengan mengajak mereka untuk selfie bersama.

Seorang warga juga menyerahkan telepon sulelernya kepada warga Rohingya untuk menghubungi keluarganya di Myanmar. Saat komunikasi tersambung, kelihatan rasa harus menyelimuti mereka.

Soal makanan, para pengungsi juga tidak perlu khawatir. Tidak jauh dari dapur umum, ada ruangan berukuran 4 x 5 meter yang dipenuhi bantuan. Di antaranya selain bahan makanan, air mineral, dan buah semangka, juga bertumpuk pakaian bekas.
"Bantuan berasal dari sumbangan masyarakat. Sejah hari pertama mereka datang, bantuan juga datang," kata seorang relawan.

Bantuan memang tidak berhenti mengalir. Setiap hari, ada saja warga yang menenteng sendiri beras, kain sarung, makanan ringan, telur ayam, mi instan, roti dan sejumlah kebutuhan bayi.

"Kami kasihan melihat mereka, apalagi mereka juga sesama muslim," kata Maimunah, warga Kecamatan Pirak Timu.

Siswa SMA

Puluhan siswa SMU Unggul Lhoksukon dan SMAN 3 Putra Bangsa juga turun langsung masuk ke posko pengungsian, yang menyeruakan bau tak sedap. Tanpa risih siswa ini membagikan sejumlah makanan ringan dan roti untuk anak-anak seusia mereka dan balita.

Menurut Suci Annisa, salah satu pelajar, sebelum pulang sekolah mereka mengumpulkan uang sebesar Rp10 ribu per orang untuk dibelikan makanan dan diserahkan ke pengungsi. "Alhamdulillah, uang yang terkumpul kami belikan cokelat dan roti untuk teman-teman Rohingya di pegungsian. Rencananya sekolah juga akan menyerahkan bantuan dalam bentuk lain." (N-3)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Admin
Berita Lainnya