Kepemimpinan Lokal Strategis Dorong Kemajuan Maluku
Syarief Oebaidillah
13/5/2015 00:00
(--(Dok))
HARUS ada keberanian dalam membangun daerah dan mengelola kekayaan yang dimiliki. Untuk itu perlu bangkitnya kepemimpinan lokal atau local leadership yang mampu memberi inspirasi bagi seluruh elemen masyarakat.
Hal tersebut dikemukakan Deputi Kementerian ESDM William Subandar saat diskusi Safe Maluku yang diselenggarakan Archipelago Solidarity Foundation pimpinan Enggelina Pattiasinam di Jakarta.
William yang putra Maluku ini mengungkapkan terdapat kekeliruan selama ini yang harus diperbaiki masyarakat Maluku, salah satunya mesti tampil kepemimpinan lokal yang kuat. "Ini penting dan strategis ,kita bisa melihat contoh Presiden Jokowi, figur dan kepemimpinanya mencuat di daerah dan akhirnya diperhatikan pusat," cetusnya.
Hemat dia, tanpa leadership lokal yang kuat, masyarakat Maluku akan bertikai dalam mengelola sumber daya alam yang dimiliki.
Pembicara lain, mantan Rektor Universitas Pattimura (Unpati) Dr Mus Huilselan mengatakan dalam kaitan membangkitkan kembali pamor dan kekuatan Maluku, diperlukan Patimura-Pattimura Muda Kabaresi yang memiliki semangat perjuangan dan keberanian dalam menegakkan kebenaran dan keadilan.
"Berani menyatakan pendapat, berani berkorban untuk kepentingan rakyat. Ini penting agar Maluku menjadi wilayah terdepan dalam pembangunan kemaritiman dan kelautan," ujarnya.
Wakil Rektor Unpati Nus Saptenno menyoroti aspek pembangunan SDM Maluku yang harus dipacu hingga menyamai SDM wilayah lain.
"Saya perihatin, kini Maluku identik dengan berbagai kelemahan dan keterpurukan, padahal daerah kita amat kaya dan dulu menjadi pusat perdagangan internasional. Mari, kita harus bangkit," tegasnya.
Sementara Direktur Archipelago Solidarity Foundation Engelina Pattiasina mengatakan masyarakat Maluku mendesak Presiden Jokowi untuk memberikan otonomi khusus (otsus) bagi daerah di Kawasan Indonesia Timur, khususnya Maluku. Tujuannya untuk mempercepat pembangunan di kawasan timur Indonesia itu.
Ia mengingatkan mesti ada keseriusan pemerintah pusat untuk membangun kawasan timur Indonesia melalui pemberian otonomi khusus bagi Maluku.
Engelina menegaskan wilayah Maluku perlu mendapat perlindungan dari ancaman kerusakan lingkungan dan sumber daya alam.
"Sumber daya alam di Maluku, di satu sisi menjadi berkat, tetapi juga mengandung petaka di sisi yang lain. Tidak boleh terjadi, eksploitasi sumber daya alam mengorbankan lingkungan termasuk kekayaan kenekaragaman hayati di Maluku," cetusnya.
Dia berharap ada keseriusan pemerintah pusat maupun daerah untuk kemajuan wilayah timur terutama di Maluku sehingga dikhawatirkan daerah ini akan terus tertinggal dari daerah lainnya.
"Maluku jangan sekadar menjadi penonton dan malah bakal menanggung semua kerusakan yang akan muncul," pungkasnya.
Acara diskusi tersebut sebelumnya dimeriahkan dengan diputarnya film dokumenter tentang jejak perjuangan pahlawan Pattimura, berjudul “Karabessi†yang dibuat dan disutradari Chris Pelamonia.(Q-1)