Putri sulung Sri Sultan Hamengku Buwono X, GKR Pembayun mendapat nama dan gelar baru, yakni Gusti Kanjeng Ratu Mangkubumi Hamemayu Hayuning Bawono Langgeng ing Mataram. Nama dan gelar baru tersebut disampaikan dalam Sabda Raja kedua di Sitihinggil, Kraton Yogyakarta, Selasa (5/5).
Nama Mangkubumi selama ini hanya dipakai oleh calon penerus tahta. Dengan gelar tersebut, GKR Mangkubumi pun disebut-sebut akan menjadi pewaris tahta Sultan Hamengku Buwono X.
Namun, perjalanan Pembayun merengkuh tahta sepertinya tidak akan mudah. Seperti diungkapkan Bayu Dardias K, dosen politik dan pemerintahan, Fakultas Ilmu Sosial dan Politik, Universitas Gajah Mada, pengangkatan seorang putri dengan gelar Mangkubumi adalah yang pertama.
"Sebelumnya tidak pernah ada yang mempunyai gelar itu selain Sultan," katanya yang saat dihubungi sedang berada di Australia.
Ia menambahkan Sabda Raja pertama dan kedua adalah sarana untuk memilih GKR Pembayun yang sekarang menjadi GKR Mangkubumi sebagai penerus. Setelah Sabda Raja kedua, dia memperkirakan akan ada Sabda Raja ketiga yang menjelaskan tugas dan kewajiban GKR Mangkubumi.
"Perjalanan untuk menjadi Ratu masih sangat panjang," ungkap Bayu.
Pria yang tengah menyelesaikan disertasi tentang Politik para Bangsawan di Nusantara, di Australian National University, ini mengatakan putri mahkota belum tentu menjadi Sultan. Jalan GKR Mangkubumi menjadi Sultan tidak akan mudah. Ada tantangan yang berat dari internal maupun eksternal Kraton Yogyakarta. Akan ada pro dan kontra.
"Kelompok kontra timbul karena sikap masyarakat yang sampai saat ini basisnya masih patrilineal. Mereka tunduk kepada Sultan, tetapi belum tentu tunduk kepada Pembayun," pungkas Bayu. (N-3)