Budaya Lokal untuk Selamatkan Datuk

(Rudi Kurniawansyah/N-3)
01/8/2018 04:15
Budaya Lokal untuk Selamatkan Datuk
( ANTARA FOTO/Irsan Mulyadi)

“RAJA rimba entah di mana dikau. Hendak pada siapa akan ku salahkan saat betis-betis kekar pepohonan terbabat dan roboh. Terkapar terbelah-belah hingga berpilah-pilah. Tidurmu tak lagi selelap dulu.”

Sepenggal bait puisi berjudul Mana Aum Mu? karya penyair Riau Aal Rahim Sekha yang bercerita hancurnya hutan tempat tinggal harimau sumatra (Panthera tigris sumatrae).

Puisi menggambarkan kegelisahan terhadap kondisi harimau di sana, dibacakan pada malam puncak perayaan Global Tiger Day di kawasan Suaka Margasatwa (SM) Rimbang Baling di Desa Gema, Kecamatan Kampar Kiri Hulu, Kabupaten Kampar, Riau, Minggu (29/7).
Sedikitnya 500 warga dari sejumlah desa di SM Rimbang Baling ikut terlibat dalam perayaan Global Tiger Day selama dua hari, 28-29 Juli.

Mereka antusias mengikuti serangkaian acara mulai jalan santai, tiger aerobik, lomba batimang, atau meninabobokkan bayi di ayunan dengan dendang syair tentang alam.

Ketua Pelaksana Global Tiger Day yang dipusatkan di SM Rimbang Baling, Kampar, Riau, Dody Rasyid Amin, mengatakan tujuan acara tersebut untuk memberikan pemahaman kepada masyarakat pentingnya penyelamatan harimau sumatra yang saat ini sudah terancam punah. Panitia berusaha membangkitkan kembali kearifan lokal di Rimbang Baling seperti batimang yang mendendangkan syair-syair secara spontan kepada anak tentang nilai-nilai kehidupan bersama alam.

“Kami ingin masyarakat tetap mempertahankan kearifan lokal mereka untuk menjaga kelestarian alam di Rimbang Baling. Ini tentu demi penyelamatan harimau sumatra,” tutur Dody sembari menyebutkan kegiatan perayaan Global Tiger Day di Desa Gema didukung Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Riau, Pemkab Kampar, WWF, Tiger Heart Riau, komunitas lokal Imbau, serta bengkel seni.

 Sementara itu, penyair Riau Aal Rahim Sekha mengatakan telah lama ada kegelisahan kalangan penyair terhadap kondisi hutan dan alam di Riau yang terus rusak akibat perambahan dan perluasan konsesi perkebunan.

Kerusakan itu kian mendesak habitat Datuk sebutan untuk harimau sumatra, yang merupakan binatang paling dihormati kebudayaan lokal di Riau.

“Puisi yang saya ciptakan berjudul Mana Aum Mu? Diperuntukkan khusus untuk SM Rimbang Baling. Dapat kita saksikan sebagian kondisi hutan telah rusak. Ini harus cepat dicegah. Jangan sampai harimau sumatra musnah karena tidak ada lagi tempat untuk mereka tinggali,” papar Aal. (Rudi Kurniawansyah/N-3)





Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Dedy P
Berita Lainnya