Ryamizard Kecam Terorisme Mengatasnamakan Islam

Ferdian Ananda Majni
28/7/2018 21:05
Ryamizard Kecam Terorisme Mengatasnamakan Islam
(MI/MOHAMAD IRFAN )

MENTERI Pertahanan Ryamizard Racudu mengatakan terorisme telah mengoyak keutuhan berbangsa dan bernegara. Terorisme ini telah membuat setiap anak bangsa saling curiga dan saling memusuhi, terorisme pun telah merusak ikatan persaudaraan dan nilai-nilai toleransi yang sejatinya menjadi kultur budaya bangsa ini.

"Aksi brutal mereka telah merusak tatanan kehidupan bangsa. Mereka benar-benar keluar dari ajaran Islam yang memiliki misi di bumi ini sebagai Rahmat bagi semuanya bukan ancaman dan kekerasan pada seluruh manusia," terangnya di Mataram, Sabtu (28/7).

Ryamizard mengatakan aksi terorisme juga telah merusak citra agama Islam. Padahal, Islam selalu mengajarkan saling mengasihi antar sesama warga.

"Kita semuanya mengencam aksi teror. terorisme telah merusak nama baik agama Islam yang dikenal dengan agama yang senantiasa mengajarkan kedamaian dan mengasihi sesama umat bukan mengajarkan membunuh, tidak ada ayat atau hadits yang mengajarkan membunuh sesama apalagi bunuh diri," sebutnya.

Ryamizard juga menyebutkan, saat ini dunia tengah menghadapi teroris generasi ketiga. Pertama Alqaidah, Islamic State di Irak dan Suriah, serta kembalinya pejuang itu ke negeri masing-masing. Menurut Menhan, menghadapi generasi ketiga dengan operasi yang benar benar tidak masuk akal.

"Kenapa saya katakan demikian, waktu kemarin di Surabaya kita tahu seorang ibu dengan anaknya bunuh diri bersama, itu tidak masuk akal. Bagaimana seorang ibu teganya mengajak anaknya mati. Dia hamil dengan kasih sayang memelihara kasih sayangnya. Melahirkan dengan susah payah dan menyusui dengan kasih sayang serta menjaganya," jelasnya.

IS yang pada mulanya hanya kekuatan milisi nasional di Irak. Katanya, itu muncul akibat konflik politik di dalam negeri pascapemerintahan Sadam Husein hingga menjelma menjadi kekuatan tren nasional yang menakutkan beberapa negara.

"Di sini perlu saya tegaskan bahwa ISIS hanya sebuah konflik politik Irak dan Suriah domestik yang tidak ada kaitannya dengan faktor keagamaan," ujarnya.

Namun, apa yang membuat menjadi gerakan global dan menarik simpati dari berbagai negara. Lanjutnya, karena mereka telah membungkus perjuangan politiknya dengan tipu daya perjuangan keagamaan melalui deklarasi berdirinya khilafah.

"Gerakan politik lokal, nyata mengunakan topeng agama dalam rangka menarik simpati dan dukungan secara global. Sangat disayangkan banyak kalangan generasi muda percaya dengan rayuan ISIS, baik motivasi, keagamaan, ekonomi, dan pencarian indentitas," terangnya.

Ryamizard menambahkan, perlu dipahami bersama bahwa ancaman terbesar terorisme bukan hanya terletak pada apsek serangan fisik yang merugikan justru serangan propaganda dan ideologi yang secara masif dapat memengaruh pandangan masyarakat.

"Serangan ideologi yang lebih berbahaya , pengaruh propaganda dan agitasi yang bernuansa kekerasan dan pengasuhan, hasutan serta ajakan bergabung kelompok terorisme telah banyak menyasar berbagai kalangan masyarakat," pungkasnya. (OL-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya