BENCANA banjir masih melanda sejumlah daerah. Di Jawa Timur, sekitar 93 rumah di Desa Tlogoagung, Kecamatan Baureno, Kabupaten Bojonegoro, diterjang banjir.
Banjir akibat luapan Kali Srening--anak Bengawan Solo--juga menggenangi lima musala dan merendam jalan sepanjang 1,3 kilometer. Banjir juga merendam lahan pertanian seluas 294 hektare (ha).
Tidak dilaporkan adanya korban jiwa dalam kejadian ini. Kerugian materi masih dalam pendataan. Informasi yang dihimpun menyebutkan banjir bandang itu terjadi pada Minggu (22/3).
Luapan Kali Srening terjadi akibat hujan deras yang mengguyur kawasan hulu sungai yang berada di wilayah Kabupaten Lamongan. Akibatnya, sebanyak 93 rumah warga dan 5 musala di RT 15-19 RW 05 Desa Tlogoagung, Kecamatan Boureno, tergenang oleh air.
"Tidak ada korban jiwa dalam kejadian ini," ungkap Kepala Pelaksana Kantor Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bojonegoro, Andik Sudjarwo, kemarin.
Tak hanya itu, banjir menggenangi jalan antardesa sepanjang 1,3 kilometer. Bahkan, banjir juga merendam lahan pertanian seluas 294 ha.
Perinciannya, kata dia, lahan terendam seluas 147, 6 ha, area persawahan 124 ha, tanaman padi siapa panen seluas 20 ha, dan persemaian padi luasannya 3 ha. "Itu data sementara sebab hingga saat ini pendataan masih terus dilakukan, termasuk kerugian materinya," katanya.
Dua desa terendam Di Jawa Barat, puluhan rumah dan hektarean sawah milik warga di Desa Cikupa dan Cireunghas, Kecamatan Cireunghas, Kabupaten Sukabumi, terendam banjir sedalam hampir setengah meter hingga 1 meter, Minggu. Kondisi tersebut disebabkan meluapnya air Sungai Cimandiri dan Sungai Cikupa, bersamaan guyuran hujan deras sejak Minggu sore hingga malam.
Sejumlah warga pemilik rumah yang terendam dan terancam sempat mengungsi ke tempat lebih aman. Mereka khawatir akan ada banjir bandang susulan karena curah hujan masih terus tinggi.
Haris Priantono, misalnya. Rumah warga Kampung Nagrog RT 02/07 itu ikut terendam banjir bandang dibarengi lumpur. "Hujannya sejak Minggu sore sekitar pukul 4. Air tiba-tiba masuk rumah sekitar setengah meteran," kata Haris.
Wilayah tempat tinggal Haris memang dikenal langganan banjir bandang setiap kali turun hujan deras. Pengakuannya, selama musim hujan kali ini, sudah terjadi dua kali banjir bandang. "Terpaksa untuk sementara akan ngungsi dulu," ucapnya.
Tak hanya rumah dan sawah yang tergenang, sejumlah ruas jalan pun ikut terendam oleh banjir. Akibatnya, tak sedikit warga yang memaksa mengendarai motor mereka mengalami mesin mati di tengah jalan. "Banjir bandang ini mungkin akibat bertemunya Sungai Cikupa dan Cimandiri saat hujan deras sehingga air tak terbendung," kata Oteng, 35, warga setempat.
Oteng tadinya akan pulang ke rumahnya di Desa Cikupa. Namun, karena ruas jalan terendam banjir, ia terpaksa harus memutar arah dengan jarak lebih jauh. "Kalau di Desa Cikupa kedalaman air sampai sepinggang orang dewasa. Adalah sekitar 1 meter hingga 1,5 meter mah," ujarnya.
Di Bali, jembatan sepanjang 10 meter dengan lebar 3 meter di Desa Pujungan, Kecamatan Pupuan, Kabupaten Tabanan, kini memprihatinkan. Lapisan aspalnya mengelupas dan berlubang serta nyaris putus akibat digerus air hujan akhir-akhir ini.
Akibatnya, arus transportasi penghubung antardusun itu pun terganggu. Warga yang sering menggunakan jembatan di kawasan itu merasa waswas karena cukup rawan jebol, apalagi kedalaman sungainya sekitar 10 meter.
Tak hanya itu, kalangan petani juga khawatir dan waswas saat mengangkut hasil-hasil panen melewati jembatan itu. (BB/RS/N-1)