Warga Jalawastu Setia Menjaga Warisan Gajahmada

MI/SUPARDJI RASBAN
24/3/2015 00:00
Warga Jalawastu Setia Menjaga Warisan Gajahmada
(MI/SUPARDJI RASBAN)
RATUSAN warga Dukuh Jalawastu dan sekitarnya berbondong-bondong mendaki lereng Gunung Kumbang di Dukuh Jalawastu, Desa Ciseureuh, Kecamatan Ketanggungan, Kabupaten Brebes, Jawa Tengah, Selasa (17/3).

Mayoritas warga yang menuju lereng Gunung Kumbang ialah pria berbusana putih-putih termasuk ikat kepala yang menutupi rambut. Ada juga sebagian perempuan yang ikut menghadiri tempat upacara ngasah yang dilaksanakan masyarakat Jalawastu.

Ngasah dalam bahasa Sunda berarti istirahat atau jeda. Ngasah merupakan upacara adat yang digelar setahun sekali pada Selasa Kliwon mangsa (musim) kesembilan dalam penanggalan Jawa.

Sebelum acara ngasah dimulai, sejumlah atraksi kesenian tradisional khas Jalawastu seperti helo gelo (rotan gila) dan benta-benti ditampilkan.

Helo gelo dimainkan lima orang yang memegang erat rotan yang panjangnya sekitar 2 meter di sebuah arena berukuran 6 meter persegi.

Setelah seorang kamitua maju ke tengah arena dan mengucapkan mantra, kelima orang pemegang rotan mendadak seperti orang kesurupan. Mereka dengan sekuat tenaga mempertahankan rotan dari upaya pihak lain yang akan merebutnya.

Perebutan rotan baru berhenti setelah sang kamitua mengucapkan mantra sebagai penutup. Kedua tangannya memberi isyarat bahwa perebutan telah usai dan dimenangi lima orang berbusana serbaputih itu.

Itu dilanjutkan benta-benti nyanyian berbahasa Sunda yang diiringi alat musik dari bambu. Selama musik bertalu-talu sekitar 1 jam, di tengah arena seorang pria seperti kesurupan tengah mempertahankan boneka yang terbuat dari serat kelapa agar tidak direbut pihak lain yang tidak tampak di mata.

Kedua atraksi seni itu mendapat perhatian Bupati Brebes Idza Priyanti bersama rombongan. Ia pun antusias menyaksikan pertunjukan itu. Setelah atraksi kesenian tradisional selesai, warga berbusana putih-putih termasuk Bupati Brebes menuju hutan. Bupati yang datang dalam acara ngasah itu menjadi tokoh sentral sekaligus penanda sang penguasa yang dihormati dalam acara tersebut.

Pemangku adat Jalawastu, Dasman, 57, menemani bupati untuk menghadiri jamuan makan bersama yang didahului doa dengan dipimpin sesepuh setempat.

Hidangan makan siang berupa nasi jagung dan lauk pauk minus ikan dan daging. Semua bahan diperoleh dari hasil hutan sekitar Gunung Kumbang.

Dasman mengungkapkan upacara ngasah merupakan warisan budaya yang sudah dilakukan sejak masa Patih Gajah Mada.  (N-4)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Admin
Berita Lainnya