Menyelamatkan Bekantan dari Kepunahan

(Denny Susanto/N-3)
25/7/2018 01:00
Menyelamatkan Bekantan dari Kepunahan
(MI/Denny)

BELASAN anak muda yang sebagian besar mahasiswa Jurusan Pendidikan Biologi, Universitas Lambung Mangkurat, Banjarmasin, Kalimantan Selatan, berkumpul di Pusat Rehabilitasi Bekantan milik Yayasan Sahabat Bekantan Indonesia (BSI), beberapa waktu lalu. Mereka serius berdiskusi untuk mempersiapkan aksi restorasi habitat bekantan melalui penanaman mangrove.

Para mahasiswa itu ialah relawan SBI, komunitas pecinta primata bekantanyang didirikan Pusat Studi dan Konservari Keanekaragaman Hayati Indonesia. Kegiatan penanaman mangrove tersebut akan dihadiri sejumlah mahasiswa asing yang tengah belajar soal bekantan di Pusat Rehabilitasi Bekantan.

Pusat Rehabilitasi Bekantan  berlokasi di tengah permukiman penduduk, dan dibangun mirip kebun binatang mini. Tempat tersebut menjadi laboratorium riset primata rujukan perguruan tinggi, baik dalam negeri maupun luar negeri.  
Di tempat itu juga ada tim rescue yang beranggotakan para relawan dan dokter hewan.

“Pada peristiwa kebakaran hutan dan lahan 2015, ada puluhan bekantan menjadi korban. Sebagian bisa disembuhkan, tetapi sebagian lagi mati karena mengalami luka bakar parah,” ungkap Amelia Rezeki, Ketua Yayasan Sahabat Bekantan Indonesia.

Peristiwa itu membuatnya semakin giat melakukan sosialisasi kepada masyarakat tentang pentingnya menyelamatkan bekantan dan satwa lainnya yang berhubungan erat dengan kehidupan masyarakat.

Ancaman terbesar kelestarian bekantan antara lain masih maraknya perburuan bekantan, rusaknya kawasan hutan tempat   habitat bekantan, dan kebakaran hutan dan lahan.

Keberadaan bekantan memberikan keuntungan, terutama produk hasil nonhutan seperti sirup dan jamu dari buah mangrove. Sebab, lanjut Amelia, bekantan hidup di kawasan hutan mangrove. “Hutan mangrove berpengaruh pada ekosistem perairan sehingga menguntungkan bagi nelayan,” jelas Amelia.

Agar habitat bekantan terus lestari, banyak warga mulai sadar membantu memulihkan kawasan hutan mangrove. Yayasan SBI, satu-satunya yayasan di dunia yang fokus pada penyelamatan bekantan di Indonesia, telah merestorasi hutan mangrove di Kalsel, bekerja sama dengan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan serta BKSDA Kalsel.

“Sejak 2014 SBI sudah menanam mangrove sebanyak 2.700 pohon. Kini 70% mangrove telah tumbuh lebat dan menjadi sumber makanan bekantan,” imbuh Ferry F Hoesein, pendiri Yayasan SBI. (Denny Susanto/N-3)

 





Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Dedy P
Berita Lainnya