NAMA lengkapnya Raden Hadji Oemar Said Tjokroaminoto. Kemudian lebih dikenal dengan HOS Cokroaminoto. Dia berasal dari kaum priayi atau ningrat. Bapaknya bergelar Raden Mas, lengkapnya Raden Mas Tjokroamiseno, seorang pejabat pemerintahan kala itu. Dan kakeknya RM Adipati Tjokronegoro, juga pernah menjabat sebagai Bupati Ponorogo, Jawa Timur.
Sepintas, tidak ada yang aneh dari perjuangan Cokroaminoto melawan penjajahan atau kaum kapitalis. Sudah sewajarnya dia berjuang membela kaum tani, buruh dan rakyat marjinal lainnya karena dia berasal dari kaum terpandang dan terpelajar pula. Lantas, di mana kebanggannya?
Kulit Cokro mungkin tidak pernah terbakar matahari seperti petani yang sedang membajak sawah. Pun keringatnya tidak pernah mengalir deras seperti para kuli panggul.
Bahkan, mungkin, tangannya tidak pernah sekotor buruh perkebunan saat menderes karet. Atau guratan wajahnya tidak sekeras orang yang sedang menjemur kopi. Karena memang, masa kecil Cokro dihabiskan untuk mengaji dan belajar di sekolah Belanda.
Perjuangan Kaum Priayi
Cokro bukanlah dari kaum merjinal, kaum yang terpinggirkan. Kaum yang selalu menghadapi kerasnya kehidupan. Kaum yang selalu menjadi alas kaki penguasa. Dan parahnya lagi, kaum ini selalu menjadi korban. Derajat mereka rendah, tidak punya kedudukan. Hidup mereka seolah hanya pelengkap.
Di sinilah rasa bangga terhadap Cokro itu muncul. Kehidupan Cokro yang sudah berada di "zona nyaman" tapi terpanggil untuk memperjuangkan kaum susah, kaum papa. Cokro gelisah melihat penindasan dan kesewenang-wenangan yang berlangsung di depan matanya. Dia tidak ingin bangsanya terus mengalami penindasan. Tanpa rasa takut, Cokro tunjukan perlawanannya, meskipun dengan resiko besar.
Meskipun berasal dari kaum priayi, Cokro mengajak rakyat untuk tidak tunduk terhadap Belanda. Cokro mengajarkan kemandirian agar tidak terbelenggu oleh kapitalis. Cokro mengajarkan banyak hal kepada rakyat. Cokro tidak ingin ketidakadilan terus menghantui rakyat kecil.
Saat itu, mungkin tidak hanya Cokro yang berasal dari kaum priayi, jumlahnya mungkin banyak. Tapi, apakah kaum priayi lainnya mau berjuang untuk rakyat seperti Cokro?
Kalaupun ada, mereka tidak sevokal Cokro dan tidak seberani Cokro. Kevokalan dan keberanian Cokro tidak hanya terdengar di Tanah Jawa, tapi juga terdengar hingga Pulau Sumatera.
Cokro rela kehilangan pekerjaannya karena melawan kompeni. Dia rela hijrah meninggalkan istrinya, suharsikin, yang tengah hamil.
Cokro terima dicaci maki orang tuanya karena dianggap merendahkan martabat keluarganya. Pria ini berani meninggalkan "zona nyaman" kehidupannya dan memilih merantau ke daerah lain tanpa jaminan bahwa hidupnya akan lebih baik.
Menularkan Keteladanan HOS Cokroaminoto
Keteladanan inilah, kemudian membuat Pelaksana Tugas (Plt) Gubernur Banten, Rano Karno, mengajak wartawan, Kepala Kepolisian Daerah Banten Brijen Boy Rafli Amar dan seluruh Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) Provinsi Banten untuk nonton bareng Film HOS Cokroaminoto, Rabu (22/4).
Rano seolah ingin berbagi keteladanan Cokro kepada semua orang yang diajaknya nonton bareng. Keteladanan Cokro memang harus ditularkan ke banyak orang. Gaya kepemimpinan Cokro memang layak untuk ditiru. Terutama keberaniannya, keberpihakannya terhadap rakyat kecil.
Tidak tanggung-tanggung, bahkan, Rano juga memboyong sang sutradara Film HOS Cokroaminoto, Garin Nugroho. "Ini film bagus dan wajib untuk ditonton, terlebih para pemimpin," ujar Rano Karno.
Selain itu, tambah Rano, film selalu menginspirasi banyak hal. Pesan-pesan dalam film selalu menjadi cermin dalam kehidupan nyata. Untuk itu, Banten yang dipercaya sebagai tuan rumah Festival Film Indonesia (FFI) Desember mendatang, harus bisa mengambil momentum itu. Melalui FFI diharapkan menjadi titik awal kreatifitas perfilman masyarakat Banten.
"Banten ini sangat kaya dengan sejarah, sehingga suatu saat bisa diangkat ke layar lebar," ucap Rano sambil melirik Garin Nugroho.
Garin mencoba memprovokasi wartawan untuk tidak mau kalah dengan kreatifitas anak-anak Bandung. Di Bandung, ada Festival Film Bandung, di Banten harusnya juga ada Festival Film Banten.
"Ide pembuatan film bisa dari mana saja, termasuk dari buku," ungkap Garin sambil memegang buku "Sejarah Banten" pemberian Rano.
Guru Bangsa
Film HOS Cokroaminoto adalah inspirasi idealnya seorang pemimpin. Cokro hanyalah pemimpin organisasi yang bernama Serikat Dagang Islam (SDI) yang kemudian dibekukan Belanda dan berubah menjadi Serikat Islam (SI). Cokro adalah sosok pemimpin yang harus rela berkorban, tidak mementingkan golongannya, apalagi dirinya sendiri.
Untuk memperjuangkan organisasinya, Cokro ikhlas ke luar masuk penjara Belanda. Tidak seperti pemimpin organisasi atau politik saat ini yang kerap mendahulukan kepentingan pribadi dan golongannya.
Padahal Cokro telah berpesan, untuk menjadi pemimpin besar harus menulis seperti wartawan dan bicara seperti orator. "Jika kalian ingin menjadi pemimpin besar, menulislah seperti wartawan dan bicaralah seperti orator", begitu pesan Cokro kepada penerusnya.
Itu sebabnya, Sukarno, mantan presiden republik ini yang dahulu pernah nge-kos di rumah Cokro sering terdengar belajar orasi di kamarnya. Dan hasilnya, Sukarno dikenal sebagai orator sejati. Setiap kesempatan, ia luangkan untuk pidato. Pidatonya berapi-api dan membakar semangat. Sukarno kemudian dijuluki sebagai guru bangsa.
Tidak berlebihan pula jika Cokro, sang guru para pemimpin besar, mendapat predikat sebagai gurunya guru bangsa. Ajarannya yang paling terkenal adalah De Ongekroonde van Java atau "Raja Jawa Tanpa Mahkota".
Tapi ironisnya, saat ini kita seolah dipertontonkan pertikaian para para elit, para pemimpin partai politik. Tengoklah, bagaimana partai sebesar Golkar harus pecah karena kepentingan dua tokoh sentral di partai itu. Mereka saling menggelar Musyawarah Nasional (Munas) dan mengklaim benar. Dan akhirnya berujung di meja hijau.
Belum lagi pertikaian di tubuh Partai PPP. Dualisme kepemimpinan dan saling menjatuhkan, dengan bangga dipertontonkan kepada masyarakat republik ini. Parahnya lagi, perselisihan antara para calon presiden hingga terpilihnya presiden masih terus terjadi. Inilah yang tidak ada pada diri seorang HOS Cokroaminoto.
Para elit dan pemimpin republik ini agaknya harus diajak nonton bareng Film HOS Cokroaminoto, seperti yang dilakukan Rano Karno, Plt Gubernur Banten. (N-3)