Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
JUMLAH korban meninggal dunia akibat perahu tenggelam karena diterjang ombak tinggi yang terjadi di kawasan perairan pintu masuk Plawangan Puger, Kabupaten Jember, Jawa Timur, dipastikan hingga petang kemarin ada lima orang.
Satu nelayan yang juga nakhoda kapal bernama Dirman yang awalnya dikabarkan meninggal di perjalanan ke rumah sakit ternyata masih hidup meski dalam kondisi kritis. Perahu payang atau KM Joko Berek yang dinakhodai Dirman dihantam gelombang laut tinggi saat pulang melaut melewati pintu masuk perairan Plawangan Puger, kemarin pukul 08.15 WIB.
Ombak tersebut menyebabkan perahu payang terbalik hingga karam dan seluruh anak buah kapal (ABK) yang berjumlah 21 orang tenggelam sehingga para ABK itu masing-masing menyelamatkan diri. Namun, ada beberapa ABK tidak bisa berenang hingga terseret ombak.
Lima ABK ditemukan dalam keadaan meninggal dunia serta tujuh ABK dinyatakan hilang dan masih dicari, sedangkan delapan ABK dan satu nakhoda selamat. “Lima korban yang meninggal dunia yakni Cecep, 45, warga Desa Puger Kulon-Kecamatan Puger, Soim, 50, Warga Desa Puger Kulon-Kecamatan Puger, Hasan, 50, warga Desa Tutul-Kecamatan Balung, Hadi, 21, warga Desa Puger Kulon-Kecamata Puger, Ulum, 35, warga Desa Puger Kulon-Kecamatan Puger,” kata Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jember Heru Widagdo, Kamis (19/7).
Menurutnya, petugas BPBD bersama tim SAR gabungan dan nelayan setempat melakukan pencarian terhadap ABK yang hilang setelah perahu payang tersebut karam. Namun, hingga kini mereka masih belum ditemukan. “Tim Reaksi Cepat BPBD, Polairud, Polsek Puger, Lantamal Puger, relawan SAR gabungan, dan keluarga korban melakukan penyisiran di sekitar bibir Pantai Pancer. Namun, hingga kini korban hilang belum ditemukan,” ujarnya.
Diketahui, sudah banyak perahu nelayan yang terbalik dihantam ombak di sekitar Plawangan Puger karena pemecah ombak di sekitar Plawangan tersebut rusak. Selain itu, tidak sedikit perahu nelayan hancur diterjang ombak laut selatan saat hendak pulang dari melaut.
Sering makan korban
Perairan di wilayah Plawangan Puger itu memang terkenal ganas dan setiap tahun puluhan nelayan menjadi korban. Menurut penduduk sekitar, rata-rata yang mengalami kecelakaan perahu ialah mereka nelayan baru dan belum menguasai pola ombak di Plawangan yang terkenal tinggi. Warga di sana menyebutnya dengan ‘ombak sembilan’.
Ironisnya, belum banyak perhatian dari pemerintah daerah setempat. Di area perairan Plawangan, terutama yang berdekatan dengan pendaratan kapal nelayan, belum ada penerangan dan petugas yang memberikan peringatan kepada nelayan yang hendak turun dari kapal setelah semalaman melaut.
Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho dalam siaran persnya mengatakan saat ini gelombang Samudra Hindia di selatan Jawa tinggi dan ganas sehingga berdampak bagi nelayan, daerah wisata, dan kawasan pesisir di Selatan Pulau Jawa.
Masyarakat diimbau berhati-hati dalam beraktivitas di laut dan pantai. “Nelayan agar selalu waspada d saat berlayar. Jika kondisi tidak memungkinkan, hendaknya mengurangi aktivitas sementara waktu,” ujarnya. Masyarakat umum yang akan berwisata pantai diimbau mengikuti saran petugas dan tidak berenang ke laut. (Ant/N-1)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved