Agar Tas Jemaah Calon Haji tidak Tertukar

(Tim Media/N-1)
20/7/2018 03:30
Agar Tas Jemaah Calon Haji tidak Tertukar
(FOTO ANTARA/Saiful Bahri/)

SELALU ada cara yang dilakukan para jemaah calon haji asal Subang, Jawa Barat, agar tas yang mereka bawa ke Tanah Suci tidak tertukar dengan jemaah lain. Sepertinya tanda dari panitia berupa nama identitas dan foto diri belum cukup bagi mereka untuk mengenali tas koper milik.

Alasan mereka, warna dan model tas sama, ditambah berjumlah mencapai ribuan sehingga ketika msampai di tempat penampungan ataupun Mekah, mereka akan sulit mengenali tas milik sendiri. Apalagi, para jemaah calon haji yang telah lanjut usia akan cepat capek untuk menemukan tas.

Nah, untuk membuat tas koper sedikit terlihat mencolok dan lebih mudah dikenali, mereka menandainya dengan menambahkan aneka aksesori. Tidak hanya kain perca, beberapa jemaah juga bahkan menandai tas koper dengan boneka, bendera merah putih, sandal, hingga gelas plastik bekas yang diikatkan pada tali tas koper.

Meski tidak ada anjuran resmi, pemberian tanda tambahan semacam itu seakan sudah menjadi tradisi tersendiri di kalangan jemaah calon haji asal Kota Nanas itu. Asal tidak terlalu berlebihan, pemberian tanda tambahan pada tas koper tidaklah dilarang.

"Itu tanda khusus agar mudah dikenali saja. Kalau kain selendang itu sudah biasa. Tanda tambahan ini supaya beda punya rombongan lain," kata Elis, salah seorang calon haji asal Subang.

Menurut Elis, tanda lucu tersebut dipasangkan pada koper berdasarkan kesepakatan kelompok dan regu. Rata-rata penanda unik tersebut berbentuk aksesori. "Kesepakatan regu mudah-mudahan tidak ada yang menyamai," harapnya.

Jemaah calon haji asal Subang tahun ini tercatat 1.196 orang. Laporan dari daerah lain calon jemaah asal Bojonegoro 1.345 orang dan 1.601 jemaah asal Pasuruan Jawa Timur.

Cerita lain yang tak kalah unik ialah pada saat jemaah calon haji Embarkasi Hasanuddin Makassar, Sulsel, kemarin, mendapatkan sejumlah pembekalan sebelum berangkat ke Tanah Suci. Salah satunya belajar menumpang pesawat terbang melalui fasilitas ruang simulasi atau maket pesawat di Asrama Haji Sudiang Makassar.

Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Embarkasi Hasanuddin, Makassar menjelaskan banyak di antara jemaah calon haji yang belum pernah sama sekali naik pesawat terbang. PPIH pun mulai memanfaatkan maket pesawat Garuda Indonesia Boeing 777 yang ada sejak musim haji tahun lalu di Asrama Sudiang.

Dari Surabaya Jawa Timur, dilaporkan, jemaah calon haji yang akan berangkat dari Embarkasi Surabaya tahun ini sebagian besar memiliki riwayat penyakit risiko tinggi (risti), yakni darah tinggi dan diabetes. Kadinas Kesehatan Jatim Kohar Hari Santoso di Surabaya, kemarin, menjelaskan dua penyakit itu dialami karena mereka rata-rata di atas 60 tahun.

Berdasarkan evaluasi pelaksana haji 2017, banyak jemaah yang tidak istitaah atau tidak mampu dalam menunaikan ibadah haji sehingga sebagian besar hanya bisa terbaring di Tanah Suci dan tidak menunaikan ibadah.

"Hal ini membawa kesulitan baru dan ia berharap agar kebijakan Kementerian Kesehatan (Kemenkes) tentang kelayakan kesehatan haji dapat didukung oleh semua pihak karena kebijakan tersebut sesuai dengan syariat Islam," jelasnya.





Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Dedy P
Berita Lainnya