Sumsel Siaga Merah Kebakaran Hutan

Dwi.Apriani
17/7/2018 23:45
Sumsel Siaga Merah Kebakaran Hutan
(MI/Dwi Apriani )

PEMERINTAH Provinsi Sumatra Selatan (Sumsel) meningkatkan kewaspadaan terhadap ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Saat ini Sumsel menetapkan status siaga merah yang berlaku mulai 25 Juli-5 Agustus, dalam rangka menyukseskan Asian Games XVIII.

Kepala Satuan Tugas Karhutla Sumsel, Kol Inf Iman Budiman, sekaligus Danrem 044/Gapo mengatakan upaya ini untuk memastikan ajang Asian Games di Palembang terbebas dari bencana kabut asap kebakaran hutan.

“Kami akan membuka posko karhutla selama 24 jam, mulai 18 Juli. Jadi, semua sumber daya, sarana, dan prasarana akan dimaksimalkan pada periode ini. Rencananya kami akan menyiapkan 60 tim, terdiri dari personel gabungan untuk melakukan operasi darat dan operasi udara,” kata Iman, kemarin.

Selama masa penetapan siaga merah, setiap tim beranggotakan­ personel TNI AD, Manggala Agni, dan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) akan berpatroli secara rutin, mengelilingi­ desa-desa yang dianggap rawan­ terbakar.

Hasil pemetaan Satgas Karhutla, sebanyak 56 desa rawan terbakar di lima kecamat­an, yakni Ogan Ilir, Ogan Komering­ Ilir, Musi Banyuasin, Banyuasin, dan Musi Rawas. Puluhan desa itu harus terbebas dari karhutla karena jika terbakar, diperkirakan asapnya sampai ke Kota Palembang.

Pada kesempatan berbeda, Gubernur Sumsel Alex Noerdin­ menegaskan adanya laporan tujuh titik panas di Sumsel, belum tentu karhutla.  

“Hotspot belum berarti firespot. Bisa saja atap seng yang terkena sinar matahari. Oleh karena itu kita kirim dulu tim untuk memastikan. Jika kebakaran, baru dipadamkan,” tegasnya.

Musim kemarau seperti sekarang ini berpotensi terjadinya kebakaran hutan di Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur. Sejak awal tahun lalu hingga saat ini terdapat 41 peristiwa kebakaran, tujuh di antaranya ialah kebakaran hutan.   

Selain kebakaran hutan, bencana kekeringan juga melanda Cilacap, Jawa Tengah. Jika sebelumnya ada tiga kecamatan  krisis air bersih, kini  menjadi empat kecamatan.

Kabid Kedaruratan dan Logistik Badan Penanggulangan Bencana Daerah Cilacap, Martono, menyebutkan ada 10 desa di empat kecamatan atau sekitar 8.700 warga krisis air bersih.

Bencana meningkat
BNPB menaruh perhatian besar pada persoalan bencana yang terjadi di Indonesia belakangan ini. “Ke depannya, bencana yang terjadi di Indonesia semakin bertambah. Semakin banyak,” kata Kepala BNPB, Willem Rampangilei, saat menjadi pembicara dalam Kongres Teknologi Nasional yang  digelar Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi di Jakarta, Selasa (17/7).

Perubahan iklim menjadi salah satu faktor terjadinya bencana banjir, longsor, dan kebakaran hutan. “Ada satu provinsi mengalami dua bencana, banjir dan kebakaran hutan. Ini dampak perubahan iklim,” tegasnya.

Sayangnya, teknologi penanggulangan bencana yang digunakan BNPB masih impor. Willem menyebutkan alat deteksi dini longsor, inovasi UGM bekerja sama dengan BNPB merupakan buatan dalam negeri, dan mendapat pengakuan internasional. “Ini buatan dalam negeri. Semakin banyak teknologi buatan dalam negeri sangat membantu BNPB mencegah bencana.” (YK/LD/Nda/Ant/N-3)





Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Dedy P
Berita Lainnya