Membumikan Dolanan Anak Tempo Dulu

(Ferdinand/N-1)
16/7/2018 07:15
Membumikan Dolanan Anak Tempo Dulu
(MI/FERDINAND)

SATU jam berada di ruas jalan Jendral Gatot Subroto di antara perempatan Notosuman dan Sraten, Kelurahan Kratonan, Kecamatan Serengan, Kota Surakarta, Jawa Tengah, pekan lalu, tidak ubahnya menyusuri lorong waktu ke masa lampau.

Memori masa kecil yang penuh canda dan gelak tawa bersama teman sebaya menyeruak bangkit kembali bersamaan dengan keriangan yang ditampilkan puluhan anak dalam Gelar Budaya Dolanan Anak Tempo Doeloe.

Permainan demi permainan zaman dulu mereka mainkan. Mulai jaranan, nini towok, kodok-kodokan hingga permainan ketangkasan, seperti gangsing, dakon, mlaku batok, dan engrang.

Penampilan mereka yang terkesan natural dan khas anak-anak membuka lembaran demi lembaran nostalgia, apalagi ketika sekelompok anak dengan gaya kocak menampilkan drama singkat Mbok Rondo Dadapan. "Itu biasa dimainkan orang-orangtua dulu," kata Camat Serengan, Islamtini, kepada Kepala Dinas Kebudayaan Kota Surakarta, Kinkin Sultanul Hakim, yang duduk di sebelahnya diiringi tawa.

Walau hanya berlangsung singkat, keceriaan yang dibangkitkan anak-anak itu begitu membekas. Tidak mengherankan jika banyak warga yang berharap kegiatan seperti ini dilakukan secara rutin. "Ini kegiatan yang sangat bermanfaat terutama untuk menangkal dampak negatif kemajuan teknologi informasi," kata Cahyo.

Guru geografi di SMA Kristen 1 Sidokare itu menilai kemajuan teknologi informasi berikut permainan modern yang menyertainya yang bisa dimainkan di gadget telah membuat anak menjadi sosok-sosok individualis. Tidak jarang anak kini cenderung menjadi tak acuh dengan lingkungan sosial di sekitarnya.

Hal itu, lanjut dia, harus ditangkal sejak dini. Salah satunya dilakukan dengan menghidupkan kembali permainan-permainan tempo dulu. Selain mengajari anak bersosialisasi dengan sesamanya, kegiatan itu diharapkan dapat menumbuhkan solidaritas dan kebersamaan di antara mereka.

"Saya berharap kegiatan seperti ini terus berlanjut," katanya. Harapan yang sama juga disampaikan Wali Kota Surakarta, FX Hadi Rudyatmo. Dalam sambutan tertulis yang dibacakan Kinkin Sultanul Hakim, Rudy menginginkan dolanan anak tempo dulu dibumikan kembali di Kota Surakarta.

Edukasi kepada masyarakat untuk kembali lagi pada hal-hal yang tradisional pun kini tengah digalakkan Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora). Pasalnya olahraga tradisional atau yang biasa disebut permainan rakyat mulai ditinggalkan generasi sekarang.

"Kami melihat bahwa olahraga tradisional ini lama kelamaan punah, satu per satu mulai tidak dikenali anak cucu kita karena pengaruh teknologi informasi yang begitu cepat, sehingga kita banyak terjebak dengan budaya asing," kata salah satu staf di Dinas Pendidikan Surakarta. Dia mencontohkan olahraga tradisional egrang salah satu dari sekian banyak olahraga tradisional yang dulu sangat populer kini hampir punah.

Itu dibuktikan saat ini sangat sulit ditemukan anak-anak yang memainkan olahraga tersebut, terutama di daerah perkotaan.





Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Dedy P
Berita Lainnya