Sijadi untuk Gaet Investor Berbisnis di Kalsel

DY/N-1
11/7/2018 07:00
Sijadi untuk Gaet Investor Berbisnis di Kalsel
(MI/Denny Susanto)

NAMANYA Sijadi. Ia baru saja diluncurkan Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan sebagai program terobosan untuk mempermudah investor mengurus perizinan. Sijadi merupakan program insentif bagi kalangan dunia usaha berupa pemberian izin pendaftaran atau izin prinsip bagi setiap permohonan izin usaha.

Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Kalsel, Nafarin, meyakini program itu akan berdampak positif bagi iklim investasi dan dunia usaha. "Investor akan mendapatkan kemudahan, misalnya pada saat mengajukan izin usaha perumahan maka juga akan mendapatkan izin pendaftaran."

Bagi Pemprov Kalsel, inovasi itu memberikan keuntungan karena izin pendaftaran usaha tersebut akan masuk skema investasi di pusat sehingga tercatat sebagai pertumbuhan investasi di daerah. Selama ini sektor perumahan tidak masuk skema investasi daerah padahal nilai investasinya di Kalsel sangat tinggi.

"Program Sijadi ini berlaku untuk semua sektor usaha termasuk juga pertambangan dan industri hasil hutan," ujarnya.

Pemprov Kalsel terus berupaya meningkatkan perekonomian yang beberapa waktu terakhir lesu akibat terpuruknya sektor pertambangan dan perkebunan (CPO). Dinas Penanaman Modal Kalsel mencatat pada 2017 realisasi investasi di Kalsel tidak mencapai target, atau hanya Rp6,1 triliun dari target Rp8,1 triliun.

Nilai investasi PMDN sebesar Rp2,9 triliun untuk 142 proyek dan PMA sebesar US$243,8 juta untuk 117 proyek. Investasi PMDN yang masuk masih didominasi sektor pertambang-an dan perkebunan, industri makanan, jasa, serta industri kimia dasar. Untuk PMA, investasi masuk di bidang listrik, gas, air, makanan, kayu, dan pertambangan.

Diakui Nafarin, kurang bergairahnya iklim investasi di Kalsel dipengaruhi lesunya pertumbuhan ekonomi Kalsel periode 2012-2015 lalu yang hanya mencapai 6,9% dan terus turun hingga 3,58% pada 2015. "Di sisi lain, infrastruktur dan fasilitas pendukung investasi seperti listrik dan air juga masih menjadi kendala," ujar Nafarin.

Investor di Kalsel berasal dari beberapa negara, antara lain Korea Selatan, Tiongkok, Singapura, Hong Kong, dan Malaysia, yang tentu membutuhkan pelayanan investasi yang tidak berbelit-belit.





Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Msyaifullah
Berita Lainnya