Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
SEBAGAI negara penghasil kelapa terbesar di dunia, Indonesia hingga kini belum maksimal mengembangkan produk berbasis dari kelapa. Dengan total produksi sekitar 14 miliar butir per tahun. Sampai sekarang 90% pohon kelapa di Indonesia milik petani dan dikelola dengan cara tradisional. Hal itu menggerakkan Koalisi Kabupaten Penghasil Kelapa (Kopek) bekerja sama dengan Balai Besar Mekanisasi Pertanian, Kementerian Pertanian untuk membuat konsorsium yang bisa menaikkan produk kelapa dari hulu ke hilir.
Untuk pembentukan konsorsium ini, Balai Besar Mekanisasi Pertanian Kementan mengawalinya dengan forum group discussion (FGD), yang dihadiri sejumlah anggota Kopek, termasuk ketua umum organisasi tersebut Nelson Pomalingo sekaligus Bupati Gorontalo, di Serpong, Banten, kemarin. Anggota Kopek yang hadir, yakni Bupati Lingga Kepulauan Riau, Alias Wello, Wakil Bupati Indragiri Hilir, Rosman Malomo, dan Asisten Deputi Perkebunan dan Hortikultura Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Wilstra Danny.
Bupati Lingga, Alias Wello, menjelaskan kabupatennya merupakan daerah dengan produksi kelapa cukup besar. Namun pengelolaannya masih skala tradisional. “Utamanya masih sebatas kopra saja. Dengan FGD ini, kami akan mengadakan lomba inovasi teknologi di bidang kelapa pada September nanti. Berbarengan dengan peringatan Hari Kelapa Sedunia dan KTT Investasi Kelapa yang akan dihadiri Presiden Joko Widodo,” terang Alias Wello.
Untuk memajukan industri kelapa, Pemkab Lingga menyediakan anggaran dari APBD sebesar Rp2 miliar. Pada tahun ini Kabupaten Lingga Kepri bersama Kabupaten Indragiri Hilir, dan Kabupaten Tanjung Jabung Timur, membentuk cluster kelapa.
Harga jatuh
Ketua Umum Kopek, Nelson Pomalingo, pada kesempatan itu menambahkan bahwa setiap tahunnya sekitar 3 miliar butir kelapa bulat diekspor ke Thailand, Malaysia, Tiongkok, dan Sri Lanka. “ Harga kelapa bulat saat ini hanya Rp300 per butir. Nilainya jatuh. Sudah saatnya dihentikan diganti dengan ekspor produk turunan kelapa agar punya nilai ekonomi,” tegasnya.
Contohnya di Gorontalo ada tiga industri kelapa memproduksi tepung kelapa, sabut, dan air kelapa yang diekspor ke Eropa, Afrika dan sebagian Asia. “Dari 248 kabupaten anggota Kopek, baru 2% memproduksi kelapa menjadi produk,” ungkap Bupati Gorontalo itu.
Atas dasar itu, Kepala Balai Besar Mekanisasi Pertanian Kementerian Pertanian, Andi Nur Alam mengusulkan agar dibentuk konsorsium kelapa. “Dalam konsorsium ini akan jelas petanya. Sumber pendanaan juga jelas. Konsorsium ini akan mendorong perkebunan kelapa di Indonesia menjadi industri, dengan dukungan dana dan teknologi modern,” harap Andi.
Gebrakan untuk industrialisasi perkebunan kelapa ini berawal dari rapat Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian yang memanggil tiga menteri, yakni menteri perdagangan, menteri perindustrian, dan menteri pertanian pada Mei lalu. “Pemerintah ingin revitalisasi kelapa ini mulai dari benih, penanaman, pengelolaan dari hulu ke hilir hingga ekspor. Dananya dari APBN ,” ungkap Asisten Deputi Perkebunan dan Hortikultura Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Wilstra Danny. (N-2)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved